Meski Ilegal, Pertamini Tetap Berjualan BBM

Kota, Korsum
Tempat penjualan bahan bakar kecil atau Pertamini sedang dipermasalahkan dan dianggap ilegal karena alat ukurnya tidak dapat ditera ulang sebagaimana harus sesuai dengan aturan dari Badan Metrologi. Tetapi, meski begitu sampai sekarang Pertamini masih saja dengan bebas menjual BBM padahal alat ukurnya yang menggunakan pompa dan tabung sudah dinyatakan ilegal.
Kabid Perdagangan melalui Kasi Perlindungan Konsumen, Rini Komala mengatakan, sejak Badan Metrologi menyatakan alat ukur Pertamini pada bulan Mei lalu, pihaknya sudah tidak lagi memberikan rekomendasi pembelian BBM Pertalite di SPBU kepada pengusaha Pertamini.
“Setelah ada kepastian dari provinsi, kami sudah tidak lagi memberikan rekomendasi pembelian BBM ke SPBU manapun. Jika sekarang ada yang meminta rekomendasi, kami akan menanyakan terlebih dahulu untuk apa. Kalau untuk Pertamini, kami tidak akan memberikan rekomendasi,” katanya, Rabu (27/7), di ruang kerjanya.
 Tetapi, lanjut Rini, sekarang muncul lagi yang penjualan BBM yang menggunakan mesin digital, tetapi ia mengaku belum tahu bagaimana aturannya. Pihaknya sudah menelpon ke Badan Metrologi terkait mesin penjualan BBM digital tersebut.
“Badan Metrologi menyarankan kita menanyakan apakah mereka punya ijin type atau tanda pabrik yang di keluarkan oleh perusahaan yang memproduksi alat ukur itu atau tidak. Kalau tidak ada, ya berarti illegal,” terangnya.
Rini menyebutkan, kedepannya Disperindag akan berkerja sama dengan pihak Kepolisian untuk menertibkan para penjual bensin eceran yang menggunakan alat ukur illegal tersebut karena di beberapa daerah pun sudah ada hal yang seperti itu.

“Meskipun pemerintah ataupun Pertamina yang memproduksi BBM tidak dirugikan, tapi alat ukur tersebut dikhawatirkan akan merugikan konsumen,” pungkasnya.**[Cecep Ridwan|Hendra]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar