Jadup Pengungsi Bakal Segera Cair

Kota, Korsum
Warga korban bencana longsor di hunian sementara (huntara) Desa Sakurjaya Kecamatan Ujungjaya tampak sumringah. Pasalnya, jadup (jaminan hidup) yang dijanjikan pemerintah dalam beberapa hari kedepan bakal segera cair.
“Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, jadup ini segera turun dari pihak Kemensos dan bisa segera didistribusikan kepada warga pengungsi. Meski agak terlambat tapi nilainya tidak akan berkurang sejak hari pertama mereka pindah kesini,” ujar Bupati Eka Setiawan kala mengunjungi 105 KK (375 jiwa) pengungsi korban bencana banjir dan longsor yang ditempatkan di Blok A, B dan F di kompleks huntara Sakurjaya, Senin (17/10).
Menanggapi beberapa keinginan sejumlah warga pengungsi agar pemerintah membangun musholla serta lapang olahraga, Bupati mengatakan, akan terus berusaha untuk mengakomodir keperluan warga. Saat ini memang belum sepenuhnya sempurna, tapi pemerintahi akan terus berupaya agar para warga pengungsi di huntara ini merasa betah dan nyaman.
“Sampaikan saja keinginannya melalui posko utama, mudah-mudahan kami bisa memenuhinya,” ungkapnya.
Namun begitu, beberapa fasilitas sudah dipenuhi, seperti listrik berdaya 1300 watt sudah terpasang dan pihak PLN pun sudah mengisi pulsa listrik sebesar Rp. 20.000 per rumah. Untuk kebutuhan air, pihak PDAM terus bersiaga. Begitu juga untuk layanan kesehatan warga, posko kesehatanpun sudah tersedia dan letaknya berdampingan dengan posko utama.
Adapun soal kondisi pengungsi kedepan di huntara, Bupati mengatakan, pihaknya akan mencari beberapa alternatif lain. “Apakah tetap disini atau pindah ke lokasi lain sebagai hunian tetapnya. Kita lihat perkembangannya kedepan seperti apa, karena kita tahu Sumedang merupakan daerah rawan bencana sehingga harus tersedia tempat-tempat untuk menampung korban sebagai pemukiman darurat,” ungkapnya.
Sementara Ketua Baznas Kabupaten Sumedang, H. Ali Badjri menyebutkan, ia akan memberikan bantuan penyediaan mushola lengkap dengan peralatan sholatnya di kompleks pengungsian Sakurjaya. Ia mengaku, sudah berkoordinasi dengan pemerintahan desa, MUI dan pemuka agama setempat.
“Hanya saja kami lebih memilih menggunakan satu rumah kosong untuk dijadikan tempat peribadatan atau,” ujarnya, Rabu (19/10) di Gedung DPRD Sumedang.
Ali beralasan, mendirikan tempat ibadah agar warga pengungsi dapat dengan tenang dan khusu ketika mengerjakan sholat. “Kalau sudah ada mushola, mereka tidak harus pergi jauh ke luar kompleks huntara saat akan sholat jumatan. Merekapun bisa mengerjakan sholat lima waktu secara berjamaah, bahkan mereka juga bisa mendirikan majelis taklim dan majelais pengajian di sana,” tutur Ali Badjri.**[Hendra]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar