Lokasi Ini Terlarang Untuk Dihuni

Kota, Korsum
Melalui surat No. /45/BGL.V/2016 perihal Laporan singkat pemeriksaan gerakan tanah di Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang, Badan Geologi Kementerian Energi dan SDM RI merekomendasikan titik-titik lokasi yang dinyatakan terlarang untuk ditinggali atau dihuni, yaitu Jalur Cadas Pangeran Desa Ciherang, Dusun Ciherang di Desa Ciherang, dan Kampung Cimareme Kelurahan Pasanggrahan Baru.
Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang melalui Sekretaris BPBD Sumedang, Joni Subarya, di tiga lokasi longsor tersebut harus dilakukan penataan lahan yang meminimalisir banyaknya atau tumbuhnya bangunan-bangunan beton. Di jalur Cadas Pangeran disebutkan harus memperbaiki tata guna lahan di lereng atas sepanjang jalan yang berupa lahan pertanian basah (sawah) menjadi lahan tanaman berakar kuat dan dalam serta membuat dinding penahan pada tebing jalan dengan pondasi menembus batuan breksi.
Sementara, di Cimareme warga disarankan tidak mendirikan bangunan di atas, pada dan atau di bawah tebing yang curam. Begitu juga di Kampung Ciherang warga harus mempertahankan dan mengembangkan lahan perkebunan dan tanaman keras serta menghindari genangan air untuk mengendalikan longsoran.
Rekomendasi dari Badan Geologi juga menyebutkan perlu pengaturan dan pengarahan aliran air permukaan dan mata air dari lereng bukit atas ke lereng bawah atau lembah. Tetapi jika ada pemukiman, maka pengembangan pemukiman tidak mendekati aliran material longsoran.
“Dengan rekomendasi tersebut maka warga memang seharusnya tidak lagi tinggal di lokasi tersebut,” ujarnya, Kamis (20/10) di ruang kerjanya.
Namun begitu, BPBD pun akan menyiapkan lahan relokasi di Desa Margalaksana, Kecamatan Sumedang Selatan atas arahan Bupati pasca berakhirnya masa tanggap darurat bencana. “Persiapan lahan relokasi ini tentunya membutuhkan proses panjang. Tak hanya urusan teknis saja, melainkan ketersediaan angggaran pun harus menjadi perhatian semua pihak,” pungkasnya.
Dikatakan, dengan kepindahan 105 KK ke Sakurjaya, posko pengungsian di GOR Tadjimalela, posko Makodim 0610, Masjid Agung dan Puskesmas telah berakhir pula. Kendati demikian, penanganan korban bencana masih berlanjut di lokasi huntara Sakurjaya.
BPBD masih akan membuat posko terpadu yang akan mengkondisikan para pengungsi agar bisa nyaman tinggal di lahan huntara. “Beberapa logistik kami salurkan ke Sakurjaya. Jadi para pengungsi masih bisa mendapatkan bantuan pakaian, sembako dan barang-barang lainnya, termasuk pelayanan kesehatan karena kami sudah berkoordinasi dengan puskesmas setempat” katanya.
Joni Subarya menambahkan, kebutuhan dapur untuk keperluan masak memasak sudah dikirimkan. Untuk sembako, Joni memastikan masih cukup untuk 2 sampai 3 bulan kedepan, apalagi para donatur pun sampai saat ini masih terus memberikan bantuan. “Tapi soal donasi berupa uang, masih tersimpan untuh di rekening BJB. Kita belum berani mempergunakannya karena belum ada penjelasan untuk apa saja alokasinya,” tandasnya.
“Untuk listrik, sekarang sudah tidak ada masalah lagi karena PLN sudah menyambungkannya dengan daya 1300 watt,” imbuhnya.
Soal keinginan warga pengungsi yang ingin menetap di huntara karena sudah merasa betah, Joni menyebutkan, beberapa waktu lalu BPBD dengan Sekda sudah menghadap ke DPD RI untuk memohon agar huntara Sakurjaya ini bisa menjadi huntap (hunian tetap) bagi pengungsi korban longsor ini. “Bahkan pemerintah sudah mengajukan surat permohonan ke Kemterian PU Pera dan ke provinsi untuk hal yang sama,” sebutnya.
Terkait adanya isu sebagian anggota keluarga yang menempati huntara, kembali lagi ke rumah mereka di wilayah Kecamatan Sumedang Selatan, BPBD menghimbau kepada pengungsiyang sudah menempati huntara di Desa Sakurjaya ini agar tidak kembali lagi ke tempat tinggal sebelumnya, baik seluruh anggota keluarga ataupun sebagian.
“Rumornya ada keluarga yang membagi dua anggota keluarganya, sebagian di huntara sebagian di rumah lama. Indikasinya untuk mendapatkan bantuan,” terangnya.
Masalah uang jaminan hidup, sebelum dibagikan BPBD bersama tim akan memvalidasi lagi data pengungsi yang berada di huntara by name by address. “Sesuai data awal, yaitu 105 KK atau 375 jiwa sudah dicatat dan dikirim ke pusat oleh Dinsosnaker. Jadi, kalau ada pengungsi susulan ke huntara ini, pihaknya belum bisa menambah. Kami tetap berpatokan dulu kepada data awal,” pungkas Joni.**[Hendra]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar