PAD Digenjot, Alat Berat Dikanibal

Cimalaka, Korsum
Kondisi alat berat milik Worksop UPTD PU Cimalaka saat ini sungguh memprihatinkan. Dari  57 unit  alat berat,  30 unit ngajugrug jadi rongsokan besi tua. Sementara 27 unit lagi dinyatakan masih layak, meskipun kondisinya sudah tua sering mogok jika sedang dipergunakan.
Tapi Ironis, rencana pemerintah Sumedang 2017 akan kembali menggenjot target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari alat berat besi tua yang ada di Worksop itu. Demi mengejar target itu, tak heran terjadi kanibalisme diantara alat berat karena tak kunjungnya peremajaan bahkan minimnya anggaran pemeliharaan.  
“Saat ini hanya 50 persen  layak dioprasikan meski sering mogok karena sudah tua. Sementara  50 persen total jadi besi rongsokan. Dum Truk habis, akhirnya mobil Kren dikanibal  menjadi Dum Truk,” kata Kepala UPTD Worksop, Eful Rohman, di ruang kerjanya, Selasa (18/10).
Usia alat berat rata-rata diatas 24 tahun, bahkan ada yang sudah 37 tahun.  Namun   2017, PAD alat berat ini akan naik 5 persen dari target PAD tahun ini (2016). Tahun ini target Rp 238 juta pertahun, tapi tahun 2017 jadi Rp 250 juta pertahun.
Naiknya target PAD itu dirasakan berat. Seharusnya, bila alat berat banyak yang rusak, maka  targetnya harus turun. Tapi malah naik, ditengah kondisi alat berat banyak yang  rusak berat. Meskipun demikian, saya usahakan target itu bisa tercapai,” katanya. 
Meskipun ada anggaran pemeliharaan alat berat, tapi tidak bisa maksimal. Bahkan Pihak Worksop sering mengusulkan ada penambahan alat berat baru seperti  Mesin Gilas (Setum), Eskavator, Beko besar Beko kecil,  tapi hingga saat ini tidak ada realisasinya. Tapi malah ada kebijakan bahwa PAD alat berat naik lagi.
Banyak proyek tapi sering mengeluh soal pelayanan Worksop karena  tak sedikit kontraknya sudah habis, tapi alat beratnya belum terkirim  karena terbatas sehingga harus gantian patunggu-tunggu. “Parahnya, ketika Setum itu sedang dioperasikan, tiba-tiba mogok sehingga harus ada perbaikan dulu,” ujarnya.
Perlu Dukungan DPRD
Ditempat terpisah, Kadis BMSDA Sujatmoko, di ruang kerjanya, Jumat (21/10), mengakui, alat berat banyak yang sudah tua, yang layak hanya Eskavator saja. Namun kata dia, untuk peremajaan harus ada dukungan DPRD karena alat berat menyangkut Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Bahkan sekarang  banyak bencana longsor  perlu alat berat (Beko) untuk  mengantisifasi bencana longsor. Namun penggunakaan alat berat dilokasi bencana itu tidak hanya sebentar, bahkan sebulan.  Sewa alat beratnya tidak bayar, tapi PAD-nya  tetap harus dibayar.
“Jika tidak ada PAD, 100 persen tidak masalah. Namun muncul masalah seperti terjadi  di Kecamatan Surian dimana alat berat baru dikirim, tapi harus ditarik kembali karena ada kondisi gawat darurat yaitu terjadi  bencana  longsor. Jelas kontrak kerja di Surian dibatalkan karena alat beratnya dicabut,” ujarnya.
Sejatinya  ada penambahan alat berat sehingga mau tidak mau pemerintah Sumedang harus meanggarkan seperti Beko besar 2 unit, Beko kecil 2 unit, Loader 2 unit, Setum 2 unit  dan Dam Truk 4 unit sehingga dengan alat berat tersebut bisa membagi antara yang kontrak kerja dan untuk membantu bencana alam.
“Naiknya PAD itu atas dasar kemauan pemerintah tapi  tidak melihat kondisi alat berat saat ini  yang semakin menurun.  Padahal seharusnya, ketika PAD-nya dinaikan, armadanya juga dinaikkan. Sehingga, dengan naiknya PAD, tidak perlu beberapa alat berat harus dikanibal,” tandasnya.**[yf saefudin]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar