Hasil Kerjasama Kandungan Tanah Aset Desa Cibeureum Kulon Diduga Jadi ‘Bancakan’

Cimalaka, Korsum
Pendapatan Desa Cibeureum Kulon Kecamatan Cimalaka dari hasil retribusi truk pengangkut pasir diketahui sebagian keuntungannya dikumpulkan hingga bisa membeli lahan kurang lebih dua hektar. Sementara, lahan pembelian tersebut, dianggap berpotensi memiliki kandungan seperti pasir dan batu, dan dari hasil pembelian lahan itu, lalu dikerjasamakan dengan salah satu pengusaha pasir.
“Uang hasil kerjasama itu sebesar Rp 100 juta diduga raib Rp 30 juta, dan sisanya Rp 70 juta dibagikan ke tujuh Rw, masing-masing sebesar Rp 10 juta untuk kepentingan di setiap lingkungan ke-Rw-an, tanpa didasari Peraturan Desa (Perdes),” kata sumber Korsum warga Desa Cibeureum Kulon, yang enggan ditulis namanya, beberapa waktu lalu.
Namun, kata sumber, sangat disayangkan ada statemen Kepala Desa Cibeureum Kulon yang mengatakan, tanah hasil pembelian itu bukan milik desa, melainkan hasil usaha dari pengumpulan retribusi truk pasir. Selain itu, transaksi sewa lahan juga dilakukan tidak secara langsung dengan desa, melainkan orang ketiga yaitu Nana.
“Ada keganjilan dari kerjasama itu, Nana diberikan uang pembayaran kerjasama pengambilan kandungan pasir dan batu dari pengusaha sebesar Rp 50 juta untuk tahap pertama, yang untuk pelunasannya beberapa minggu kemudian, lalu diberikan oleh Nana ke kades, dan yang dibagikan bukan Rp 100 juta, melainkan Rp 70 juta,” sebutnya.
Dari rentetan kejadian tersebut, tambahnya, tidak didasari oleh Peraturan Desa (Perdes), selain itu juga, kerjasama yang menyangkut dengan asset desa dilakukan dalam hal ini oleh Desa Cibeureum Kulon tanpa adanya rekomendasi dari Kecamatan, BPMPDKBPP Kabupaten Sumedang, dan tanpa ada ijin Bupati.
Dikonfirmasi Korsum, Kamis (10/11), Nana, sebagai perantara antara pihak Desa Cibeureum Kulon dengan pengusaha mengatakan, hal itu sudah tidak ada masalah, apa yang mau dipermasalahkan?, hasil musyawarahnya juga jelas, dan hasil kerja samanya juga dibagikan ke tiap Rw.
“Awal mulanya bahwa ada yang perlu tanah, kebetulan ada tanah desa, maka pak Haji Unay adalah pengusahanya yang berencana akan dikerjasamakan kandungannya saja, dan akhirnya pak Haji Unay ngasih uang Rp 100 juta ke desa,” jelas Nana, saat dikonfirmasi di lingkungan Kantor Desa Cibeureum Kulon.
Nana menjelaskan, bahwa dirinya sudah membicarakan sebelumnya, dengan Rt/Rw soal uang yang Rp 100 juta, lalu hasil kesepakatan dengan Rt/Rw uang tersebut dibagikan  ke setiap Rw.
“Kenapa uang tersebut dibagikan?, jadi jangan sampai uang tersebut ngendap di desa, karena sudah tidak ada kepercayaan kepada desa, uang tersebut dibayarkan dua tahap masing- masing Rp 50 jutaan, dan uang itu sudah dibagikan ke lingkungan, setelah dibagikan lalu dikumpulkan lagi untuk dipertanyakan, sejauhmana uang itu dipergunakan?, ada yang dibelikan perabotan, ada untuk kepentingan infrastruktur dan kepentingan lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Sementara, Camat Kecamatan Cimalaka, Asep Aan Dahlan, mengatakan permasalahan itu sedang ditangani oleh dirinya, karena camat pun mengaku kecolongan.
“ Betul, bahwa permasalahan Desa Cibeureum Kulon sedang kami tangani dari berbagai masalahnya, mudah-mudahan segera bisa diselesaikan,” singkatnya, saat dikonfirmasi Korsum, beberapa waktu lalu melalui telepon genggamnya.
Dikonfirmasi Korsum, Senin (21/11), Kepala Desa Cibeureum Kulon, Cecep, mengatakan, bahwa hasil kerjasama kandungan dengan pengusaha tersebut uangnya sudah dibagikan ke Rt/Rw, dan soal uang yang sisa dari pembagian ke setiap Rw itu, dirinya (kades) mengakui tidak tahu dan akan mengkoordinasikan lebih lanjut.
“Bukan saya tidak tahu, namun akan saya telusuri bagaimananya nanti, dan soal ada orang ke tiga seperti mang Nana itu, justru sebabnya saya tidak mau ada buntut permasalahan seperti ini sekarang, maka dari itu saya akan mengumpulkan pihak terkait untuk dikonfirmasikan. Jujur saja, saya tidak mau ada buntut permasalahan seperti sekarang,” kata kades, saat dikonfirmasi melalui telepon genggamnya.
Hasil dari kerjasama itu, tambah Cecep, dibagikan per Rw sebesar Rp 10 juta, dan oleh RW dipergunakan untuk kebutuhan kursi dan balai musyawarah. Adapun soal pembelian tanah oleh desa, apakah sudah di masukan kedalam aset desa atau belum, saya akan menanyakan dulu ke pak Sekdes dulu, apa sudah dimasukan atau belumnya,” katanya singkat.
Sementara, ditanya ijin bupati terkait pemamfaatan asset desa, baik kepala Desa Cibeureum Kulon ataupun Camat Cimalaka belum bisa membuktikan ijin bupati bahwa tanah aset desa itu dikerjasamakan dengan pihak ke tiga. Hingga berita ini diterbitkan belum ada klarifikasi lebih lanjut baik dari Camat Cimalaka dan Kepala Desa Cibeureum Kulon.**[Dady]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar