Warung Kopi Kabuyutan Sajikan Menu Kopi Buhun


Kota. Korsum
Hadirnya keday keday dan Cafe kopi yang bisa di bilang modern, diakui merupakan tantangan untuk terus melestarikan kopi buhun yang didukung dengan konsep sabilulungan (Kebersamaan).
Konsep ini coba diterapkan Yayasan Padji Silihwangi Nusantara dengan membuka Warung Kopi Kabuyutan di Jalan P. Soeriaatmadja, Sumedang kota.
Owner Warung Kopi Kabuyutan Iman Sugiaman mengatakan, usaha dibidang kuliner buhun yang dirintisnya ini merupakan jaringan warung rakyat berbasis sabilulungan yang akan dibuka di 26 kecamatan se Sumedang.
"Warung Kopi Kabuyuatan diharapkan jadi inspirasi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sumedang, dan sekarang kita akan terus membangun di setiap kecamatan, selain itu disuguhkan juga menu makanan khas sunda lainnya”.tuturnya pada Korsum saat launching warung semi kafe di depan Hotel La Diva, Sumedang Selasa (15/11).
Lebih jauh Iman mengatakan, yang jadi pembeda kopi kabuyutan dengan kafe lain di Sumedang, yaitu konsep berbasis sabilulungan dengan berpijak pada kearifan lokal. Tentunya, dengan menghadirkan menu-menu makanan tradisional khas Sunda dan alat saji buhun khas Sunda di tiap kecamatan yang ada di Sumedang.
"Sumedang kan, budaya ngopi kopi buhun sangat kental sehingga kami hadirkan menu kopi buhun, tentunya dengan menggunakan bahan kopi hasil bumi petani Sumedang, seperti kopi dari Rancakalong yang sudah dikenal hingga ke mancanegara" ujarnya 
Menu utama kopi buhun ini, kata dia, kemudian dipadu maniskan dengan menu khas lainnya seperti combro, misro, dan jajanan olahan lainnya dari para pelaku UMKM di Sumedang, “Nantinya, para pelaku UMKM di tiap kecamatan ini bisa menitipkan dagangan olahnnya di sini. Inilah yang dinamakan konsep sabilulungan (gotong royong/kerjasama) sehingga dapat menghidupkan ekonomi masyarakat sumedang". Harapnya 
Selain itu lanjut Iman, untuk menarik pengunjung, pihaknya mengusung tema ngopi, ngabako, ngacapi bareng, manajemen Warung Kopi Kabuyutan akan rutin menggelar kesenian tradisional khas Sunda, seperti kacapi suling. Dan rutin menggelar diskusi publik dengan tema bahasan seputar seni budaya Sunda, seputar pembangunan di Sumedang, isu-isu terhangat di Sumedang dan ragam topik lainnya yang layak diperbincangkan.
Sementara, penggagas Warung Kopi Kabuyutan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan Pandji Silihwangi Nusantara Tatang Sena Pamoengkas atau yang lebih akrab di panggil Aki tea mengaku, prihatin dengan kondisi perekonomian masyarakat Sunda saat ini, sehingga terinspirasi untuk mengembalikan kejayaan dengan kembali menghidupkan ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong (sabilulungan).
"Masyarakat Sunda ini kental dengan budaya gotong royongnya, dan saat ini sudah mulai pudar sehingga harus kembali dibangkitkan. Dimulai dengan warung rakyat ini diharapkan mampu kembali menggerakan ekonomi kerakyatan masyarakat Sunda di Sumedang".katanya. ** Acep Shandy
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar