PDAM Antisipasi Kerusakan Pipa di Cireki

Kota, Korsum
Anjloknnya tanah di permukaan jalan raya provinsi tepanya di blok Cireki Desa Bugel Kecamatan Tomo, tidak hanya berakibat pada lumpuhnya arus lintas kendaraan tapi berakibat pula pada pipa saluran air PDAM sepanjang 42 meter yang terpasang dipinggir jalan tersebut. Hal itu, berdampak kepada 3000 pelanggan PDAM yang sempat tak mendapatkan suplai air.
Seperti diakui Kabag Humas PDAM Tirta Medal Sumedang H. Uus Rusli bahwa pipa saluran air milik PDAM yang berada dikanan-kiri jalan provinsi itu ikut terbawa amblas. Akibatnya, ribuan pelanggan PDAM di wilayah itu sempat meradang karena terputusnya saluran pipa tersebut.
“Kejadian itu merupakan bencana alam, bukan kecerobohan pihak PDAM. Namun dalam waktu tiga hari, pipa yang putus itu dapat teratasi. Pelanggan PDAM sekitar 3000 SL di kecamatan Tomo dan Ujungjaya itu kembali normal seperti biasa,” ujar Uus, di ruang kerjanya, Rabu (8/3).
Perbaikan pipa besi yang ada disebelah kanan jalan itu, perlu waktu tiga hari lanjutnya,  sebab pipa besi itu harus diangkat dulu, namun pipa besi itu sangat berat hingga ratusan kilogram harus menggunakan alat berat untuk mengangkat pipa besi itu.
Bahkan, pipa besi yang tertimbun tanah itu ada sekitar 7 lente. “Diangkat lalu dipindahkan ketempat yang lebih aman, lalu kemudian disampung kembali. Pekerjaan ini sungguh berat sehingga perlu waktu untuk menormalkan kembali saluran air kepada para pelanggan itu,” sebutnya.
Musibah anjloknya tanah itu merupakan kejadian yang terduga membuat semua pihak sibuk mengatifasi dampak dari musibah itu. Termasuk PDAM, saluran pipa air ke Tomo dan Ujungjaya terputus, tapi suplai air tidak boleh putus sehingga upaya berbaikan terus dilakukan meski perlu waktu dan biaya.
“Kami berharap kepada para pelanggan PDAM bersabar untuk beberapa waktu saja. Mudah-mudahan permasalahan putusnya saluran air ini cepat terselesaikan. Saat ini, tim PDAM berupaya keras melakukan perbaikan secara insten,” ujarnya.
Libatkan Desa
Ditempat terpisah, Kabag Ekonomi Setda Sumedang Deni Tanrus berharap, PDAM menjadi satu kesatuan dengan desa dalam rangka mengelola sumber mata air. Sebab  kata dia, penyertaan modal itu bukan untuk PDAM tapi untuk rakyat.
“Hanya saja, PDAM sebagai pengelola modal itu terlebih jika pemasangan baru untuk rakyat miskin yang notabene dalam penyertaan modal ada subsidi untuk rakyat miskin itu. Sebab itu, manakala PDAM mengikutserta pihak desa, maka tidak akan terjadi penolakan warga terhadap program PDAM.

“Jika ada distribusi dari rakyat, merupakan hal yang wajar sehingga harus ada satu kesatuan, maka rakyat juga akan merasa memilki terhadap PDAM. Tidak ada istilah air untuk rakyat tapi ditolak rakyat. Jika demikian kejadiannya, berarti PDAM dan rakyat tidak nyambung,” kata Deni di ruang kerjanya, Rabu (8/3).**[yf saefudin]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar