WTS Menjamur, Dinsos Tutup Mata

Kota. Korsum
Saat ini, Wanita Tuna Susila (WTS) di Kabupaten Sumedang semakin marak bagaikan jamur di musin hujan menghiasi Warung Remang-remang (Warem) yang berderet pinggir jalan provinsi dari mulai Paseh hingga Tomo. Anehnya, Dinas Sosial yang lebih berwenang soal WTS ini seolah tutup mata, bahkan tak ada eksen sama sekali.
“Jika siang, tampaknya biasa saja. Namun suasana akan lain jika dimalam hari.  Warem yang berderet dari Paseh hingga Tomo ramai dikunjungi para lelaki pencari kepuasan sesaat. Dibawah alunan musik Rege dengan lampu warna-warni menghantar tarian WTS dan lelaki hidung belang mengingatkan akan tempat lokalisasi Kramat Tunggak masa lalu,” kata Iwan warga Sumedang, Selasa (7/3).
Jika kondisi seperti itu terus dibiarkan tanpa ada tindakan, maka akan berdampak negatif. Tak hanya Sumedang menjadi sorganya para WTS, tapi penyakit Raja Singa akan mewabah. Seharusnya, lanjut dia, Dinas Sosial lebih eksis penanganan soal WTS sehingga warga Sumedang terhindar dari penyakit AID/HIV.  
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dadi Mulyadi, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/3), mengakui maraknya WTS itu. Kata dia, secara kemanusian kepada WTS itu kasihan, tapi tugas harus dijalankan. Dinsos hanya bisa melakukan penjangkuan yang berkerjasama dengan pihak keamanan. Namung menurut aturan, WTS itu harus dikirim ke panti rehabilitasi di Palimanan.
“Tentu saat ini, Dinsos terkesan banyak berdiam diri tidak eksis dalam penangan WTS ini. Sebab, anggaran untuk kegiatan itu sangat minim. Seperti tahun 2016 lalu, hanya bisa dilakukan dua kali razia atau penjangkauan dalam setahun dengan anggaran hanya sekitar Rp 40 juta. Tak hanya soal anggaran, tapi dari pihak keamanan harus dikordinasikan dengan Dinsos,” katanya.
Hingga saat ini akui Dadi, Dinsos belum tahu jumlah WTS yang ada di Sumedang karena belum melakukan pendataan. Namun dengan banyaknya WTS saat ini,  Dinsos berharap ada laporan dari pihak desa, keamanan dan masyarakat sehingga Dinsos yang minim anggaran ini, tidak selalu melakukan penjangkauan.
“Mungkin kedepan akan lebih kepencatatan pembinaan saja, tidak lagi ke masalah razia dalam penanganan sosialnya. Jika berdasarkan data yang dulu bahwa WTS ini banyak warga luar Sumedang. Mereka sengaja datang ke Sumedang hanya untuk mencari nafkah dari ngabondon,” katanya.
Dulu, eks WTS ini dididik keterampilan karena mereka rata-rata usia 30 tahun yang terjaring di Warem. Bahkan tahun ini jika ada anggarannya, Dinsos akan kumpulkan para WTS untuk dididik dan dibina baik dari segi kesehatan maupun segi keagamaan untuk mencerahan bahwa pekerjaan WTS itu akan berdampak negatif.
“Dari segi penegakan ada di pihak Pol PP, sementara Dinsos hanya segi sosialnya. Hanya saja tahun ini, anggaran untuk kegiatan penjangkuan relatif kecil, mungkin hanya untuk satu kali kegiatan. Padahal Dinsos itu punya tugas penanganan masalah sosial dimasyarakat dari mulai Sajadah sampai Haramjadah, “sebutnya.

Hal itu dibenarkan Kabag Pelayanan dan Rehabilitasi Dinas Sosial Ali Nurjaman masih ditempat yang sama. Kata dia, Dinsos sudah mengusulkan mobil keliling operasional penjangkauan sehingga nanti Dinsos akan terlihat eksisnya dalam penangan masalah WTS itu. “Kenapa kenapa Dinsos itu seperti kurang eksis?. Jangankan ada kendaraan operasional khusus, anggaran untuk Dinsos ini sangat minim,” katanya.**[yf saefudin]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar