TAHU SUMEDANG ISI “BOM”

Kota, Korsum
Minggu, 26 Februari 2017, Barak Teater Bandung bekerja sama dengan Badebah Concept meneror kota Sumedang dengan ancaman “Bom”. Tentu saja bom yang dimaksud bukanlah bom yang sesungguhnya melainkan sebuah pertunjukan teater  yang dibawakan oleh Barak Teater Bandung. Pertunjukan teater tersebut berjudul  “Bom”  karya Yoseph Iskandar  yang  disutradarai oleh Dado Tisna. Pementasan yang digelar di Gedung Graha Insun Medal.
Pertunjukan bom tersebut menceritakan tentang sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari Sarkim dan Omoh sebagai istrinya. Cerita bermula ketika pada suatu pagi datanglah seorang petugas  biro riset bernama Ngadimin mendatangi kediaman Sarkim untuk melakukan survey  tentang barang-barang  yang dipakai dan digunakan oleh keluarga tersebut. Malamnya tanpa disadari sebelumnya, Omoh melihat sebuah tas mencurigakan dibawah kolong meja rumahnya.  Sarkim  yang pada pagi hari membaca sebuah berita dari secarik koran mengenai terror bom mencurigai bahwa tas yang ditemukan oleh Omoh dirumahnya tersebut adalah tas yang berisi sebuah bom.
Kepanikan tentang tas yang mencurigakan tersebut segera tersebar kabarnya sehingga beberapa warga kampung ikut merasakan kepanikan yang serupa seperti yang  dialami oleh Sarkim dan Omoh. Hal lucu yang disebabkan oleh situasi kepanikan-pun terjadi, kepenasaran warga kampung yang berada di rumah Sarkim dibuat bertanya apakah benar yang didalam tas itu bom atau bukan. Ketegangan demi ketegangan yang diselingi dengan adegan komedi diramu dengan baik lewat tangan sutradara juga permainan yang cantik dari para aktornya sehingga kepenasaran yang dialami oleh para tokoh bisa dirasakan juga oleh para penonton yang menyaksikan pertunjukan tersebut.
“Naskah bom karyaYoseph Iskandar sangat kontekstual dengan keadaan Indonesia kekinian,” ujar Sutradara yang gemar menggunakan topi koboi dan penggemar naruto ini. “Ada hal yang paradoks, satusisi media informasi sangat mudah didapatkan pada era sekarang ini sehingga benar dan salah dari sebuah informasi bisa bercampur aduk. Di sisi lain seperti yang dialami oleh Sarkim, Omoh dan warga kampong lainnya yaitu minimnya info dan media sehingga ketika ada berita dari sebuah sumber, kemudian sesuatu terjadi tanpa pikir panjang dan mengetahui asal-usul hal yang tengah terjadinya tersebut maka akan dianggap sebuah kebenaran dan akhirnya menimbulkan kepanikan.” Tambah Dado Tisna.
Kegga dan Sancaka dari Badebah concept dengan lugas mengatakan, “Kami ingin menampilkan sebuah pertunjukan berbahasa sunda di Sumedang karena Sumedang merupakan puseur budaya pasundan. Juga adanya persamaan visi dan misi dengan Barak Teater Bandung dalam hal kebudayaan sunda.”
Mojang Bandung kelahiran Sukabumi yang selaku Pimpinan Produksi yaitu Yuli Supriyani, S.Sn. berkata dengan penuh semangat, “Saya pribadi pementasan Barak Teater Bandung yang bekerja sama dengan Badebah Concept ini bisa diterima dengan baik oleh para penonton juga bisa diambil hikmahnya. Karena selain menghibur, saya harap juga bisa memberikan manfaat bagi para penonton,” katanya. 
Meruju pada keadaan seni teater yang ada di Sumedang, barak teater bandung berantusias menghadirkan sebuah konsepan baru yang bertujuan memberikan edukasi terhadap para pelajar atau mahasiswa yang sangat ingin belajar seni peran. Ditambah lagi dengan menghadiran bahasa yang lokal atau bahasa sunda dengan tujuan membudayakan bahasa sunda itu sendiri. ”Sumedang adalah puseur budaya sunda,” tambah Dado tisna.**[Korsum]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar