Tempat Wisata Ciherang Membahayakan

Kota, Korsum
Wisata alam Ciherang Desa Cijambu Kecamatan Tanjungsari mulai menarik wisatawan hingga ramai dikunjungi terutama di hari libur. Namun dibalik keindahanya itu, tempat wisata Ciherang yang dipenuhi pohon Pinus itu dinilai membahayakan para pengunjungnya.
Menurut salah seorang pengunjung yang tidak mau disebut namanya Minggu lalu mengkhawatirkan soal kondisi pohon Pinus di tempat wisata itu. Mengapa tidak?, semua pohon Pinus sudah pada bolong menganga bekas sadapan sehingga kondisinya rapuh dan mudah runtuh.
“Ketika ada angin rada kencang, dikhawatirkan pohon Pinus keropos itu tumbang menimpa para pengunjung yang ada dibawahnya. “Hal itu terbukti dengan sudah ada beberapa pohon Pinus yang sudah runtuh. Hanya saja masih untung tidak menimpa pengunjung sehingga tak ada korban jiwa,” sebutnya. 
Kades Cijambu, Arifin, di IPP, minggu lalu membenarkan hal itu. Namun tempat wisata milik Perhutani dan dikelola Perhutani itu ada setoran ke desa 5% dari hasil penjualan tiket masuk wisata. Uang setoran itu kata dia, masuk langsung rekening desa.
Dikatakan, tarif tiket masuk wisata Rp 10 ribu  termasuk dana asuransi 500 perak didalamnya. Namun kades ini mengaku belum tahu bentuknya, apakah asuransi kecelakaan atau asuransi kematian karena tempat wisata itu sipatnya menantang,  ada arena Arum Jeram segala macam.
“Ketika pengunjung bawa anak kecil, tentu si anak itu tidak beli tiket. Masalahnya, bagaimana anak itu celaka di tempat wisata. Kata Perhutani ada pengkajian dulu, tapi persoalannya wisata itu sudah ramai dikunjungi sehingga tak sedikit pengunjung banyak yang kecewa,” katanya.
Seharusnya, lanjut dia, Pinus di tempat wisata jangan disadap lagi getahnya karena sudah membayakan jika di suatu saat tiba-tiba runtuh nimpa orang sedang wisata. Bahkan pengunjung pernah jatuh ke solokan hingga luka kena batu. Namun hingga saat ini yang namanya asuransi itu belum turun juga.
“Bagi saya, adanya wisata itu membanggakan. Namun jangan masalahnya saja yang datang ke desa. Seharusnya pihak Perhutani yang lebih tanggungjawab dalam menangani permasalahan. Tapi nyatanya, desa selalu dihadapkan kepada permasalahan dampak adanya wisata itu,” sebutnya.
Ditempat terpisah, Humas Perhutani Sumedang Nana ditemui di ruang kerjanya, Jumat (31/3), menyebutkan, Witasa itu merupakan kerjasama Perhutani dengan LMD Cijambu. Dari hasil jual tiket kata dia, desa kebagian 5% dan semua pohon Pinus di kawasan wisata  sudah tidak disadap lagi.
“Memang Pinus banyak yang bolong bekas sadapan dan untuk pemulihan pohon itu dihentikan kegiatan sadapan. Bukan tempat bahaya dibuat wisata, tapi memang kondisinya sudah seperti itu, sehingga Perhutani ambil kebijakan dari harga tiket Rp 10 ribu sudah masuk asuransi kecelakaan bagi pengunjung,” tuturnya.
Diakui, Perhutani memandang riskan akan bahaya itu, sehingga pengunjung harus  diasuransikan untuk antisifasi resiko yang akan terjadi.  Tempat itu potensi dijadikan tempat wisata karena wisata alam itu tentunya dibawah pohon karena yang dijual wisata alamnya.

“Sampai saat ini, belum ada laporan Pinus tumbang diwilayah wisata itu, Tapi mungkin diluar area wisata, hanya saja berdekatan. Namun tergantung  pengunjung, sadar atau tidak terhadap wisata  berbahaya itu, sehingga harus beli tiket supaya ada jaminan kecelakaan,” tandasnya.**[yf saefudin]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar