Ngalaksa Tiap Tahun ‘Nalangsa’ Anggaran

Rancakalong, Korsum
Even Ngalaksa setiap tahun selalu dilaksanakan. Namun ironis, dibalik mempertahankan adat budaya leluhur warga Kecamatan Rancakalong ini, tiap tahun selalu temui persoalan klasik yakni minimnya anggaran. Hal itu tak berbanding lurus dengan potensi Sumedang yang terkenal akan seni dan budayanya.
Seperti diutarakan Tokoh adat masyarakat Rancakalong, Abah Ateng, di Desa Wisata Desa Rancakalong Kecamatan Rancakalong, Selasa (4/7), mengatakan, even Ngalaksa ini akan digelar Selasa (11/7). Namun acara Ngalaksa ini harus kena kepada aturan pokok Rancakalong yakni Sasaka tujuh belas.
Acara Ngalaksa kata dia, tiap tahun selalu nalangsa karena selalu minim anggaran. Padahal, biaya Ngalaksa bisa mencapai sekitar Rp 70 juta, sementara dari Pemda Sumedang untuk Ngalaksa ini hanya dianggarkan Rp 5 juta, sehingga masih sangat jauh dari yang dibutuhkan.
“Dulu diera Bupati Don Murdono, untuk acara ini tiap tahun dianggarkan hingga Rp 40 juta. Namun semenjak Bupati Don itu berakhir, maka anggaran untuk acara Ngalaksa ini turun  drastis yakni hanya Rp 5 juta saja. Sisanya Rp 65 juta diserahkan kepada masyarakat Rancakalong, sabisana wae,” sebut Abah Ateng.
Semenjak itu lanjutnya, anggaran untuk gelaran adat budaya Ngalaksa ini tiap tahun selalu swadaya sabisana wae masyarakat Rancakalong karena anggaran dari Pemda Sumedang sangat minim. Setiap tahun bukannya meningkat, malah justru anggaran untuk Ngalaksa ini semakin diperkecil.
“Sekarang untuk kekurangan anggaran itu dibebankan kepada para kades demi memperlancar acara Ngalaksa. Namun sumbangan dari para kades belum masih belum cukup juga, hingga akhirnya camat Rancakalong mau tak mau harus menutupi kekurangannya seperti yang terjadi acara Ngalaksa tahun lalu, “ujarnya.
Camat Rancakalong Herry Dewantara, ditempat yang sama membenarkan, biaya untuk acara adat Ngalaksa itu mencapai sekitar Rp 70 juta. Namun sejak dulu kata dia, acara ini lebih menitikberatkan kepada gotong-royong semua desa. Sehingga, meskipun tidak ada anggaran, acara Ngalaksa ini tetap harus berjalan.
“Sekitar 5 tahun kebelakang, anggaran acara Ngalaksa ini memang besar karena waktu itu acara adat budaya daerah seperti Ngalasa ini hanya ada di Rancakalong. Namun 5 tahun kemudian, acara adat budaya hampir ada disetiap kecamatan sehingga anggaran dari APBD harus dibagi-bagi dengan kecamatan lain,” katanya.
Sehingga, setiap desa di Rancakalong bahwa anggaran untuk Ngalaksa ini dimasuk dalam APBDes. Misalnya Desa Cibunar yang tahun ini giliran jadi Rurukan acara Ngalaksa, maka dianggaran Rp 15 juta. Namun anggaran dari Cibunar ditambah dari APBD Rp 5 juta, masih kekurangan Rp 50 juta, sehingga dihimpun swadaya masyarakat.
“Meskipun even Ngalaksa minim anggaran, tapi acara adat budaya ini tiap tahun tetap bisa dilaksanakan karena swadaya masyarakat Rancakalong sangat tinggi sehingga tetap bisa dilaksanakan,” tandasnya.
Desa Cibunar tahun ini giliran jadi Rurukan acara adat Ngalaksa, sementara menurut kadesnya Heni Susilawati mengatakan, untuk acara adat Ngalaksa masih tahap kepersiapan. “anggaran dari Pemda sangat minim hanya Rp 5 juta sedangkan yang diperlukan maksimal sekitar Rp 70 juta,” ujarnya.**[yf saefudin]


Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar