TERAPI ALTERNATIF SELAIN HEMODIALISIS UNTUK PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIS

Kota, Korsum
Saat seseorang harus menjalani cuci darah, hampir pasti akan merasa ketakutan dan tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Cuci darah atau hemodialisis menjadi momok negatif di masyarakat kita. Hal ini berkaitan juga dengan istilah ketergantungan yang ramai didengungkan oleh banyak orang. Kata ketergantungan tentunya menjadi salah kaprah, karena sebenarnya hemodialisis diperlukan oleh seorang pasien gagal ginjal untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak lagi berfungsi optimal.
“Pada penyakit gagal ginjal terjadi penumpukan limbah dan cairan pada darah. Kondisi ini beresiko membahayakan kesehatan secara keseluruhan. Seseorang yang kehilangan fungsi ginjal melebihi 85 persen, wajib melakukan cuci darah agar terhindar dari komplikasi berat yang mengancam jiwa,” ungkap dr. Ade Erna Yusniar N, Sp.PD yang merupakan salah seorang dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Kabupaten Sumedang.
Dijelaskan, hemodialisis merupakan proses pembersihan darah dari zat-zat sampah melalui penyaringan di luar tubuh dengan menggunakan mesin dialisis. Hemodialisis selayaknya dilakukan sampai didapatkan terapi definitifnya, yaitu transplantasi ginjal. “Hanya permasalahannya, donor organ yang masih belum terfasilitasi dengan baik di Indonesia menyebabkan banyak pasien gagal ginjal yang masih sangat tergantung dengan terapi ini,” ungkapnya.
Metode untuk melakukan proses cuci darah, kata Ade, sebenarnya tidak hanya dengan mesin dialisis. Ada metode lain yang belum familiar di masyarakat kita, yaitu Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) atau peritoneal dialisis. Metode ini tidak menggunakan mesin dialisis sebagaimana metode hemodialisis. “Peritoneum yang merupakan lapisan dalam perut yang digunakan sebagai alat penyaring darah memiliki ribuan pembuluh darah kecil (kapiler) yang bisa berfungsi selayaknya ginjal,” katanya.
Peritoneal dialisis dapat menciptakan kualitas hidup yang lebih baik bagi penderita karena dapat menjalani hidupnya dengan normal tanpa banyak batasan konsumsi makanan, sehingga pasien tidak mengalami kondisi malnutrisi (kurang gizi). Pilihan cuci darah dengan metode ini juga mengurangi risiko terjadinya anemia (kurangnya sel darah merah ) dan penyakit hepatitis (penyakit kuning).
Pasien juga dapat tetap produktif dibidangnya karena dapat tetap bekerja atau bersekolah seperti biasanya. Dalam sehari pasien cukup meluangkan waktu sebanyak 4 kali 30 menit untuk melakukan cuci darah mandiri ini. Pasien dapat melakukannya di rumah, dikantor bahkan di pusat perbelanjaan, asalkan tempat nya bersih dan cukup nyaman untuk pasien. Sedangkan dengan hemodialisis, pasien harus berangkat ke Rumah Sakit setiap 2-3 kali perminggu, sehingga pasien tidak bisa tetap aktif bekerja atau bersekolah.
dr. Ade menyebutkan, CAPD dilakukan dengan memasang sebuah alat (cathether) dengan cara membuat sayatan kecil di dekat pusar oleh dokter bedah. Setelah alat siap dipakai, pasien akan menjalani proses cuci darah dengan memasukkan cairan dextrose dengan konsentrasi tertentu ke dalam perut. Cairan ini berfungsi sebagai penarik cairan dan racun dari dalam darah. Cairan kemudian didiamkan selama sekitar 6-8 jam sesuai jadwal, kemudian dikeluarkan lagi dari dalam perut melalui selang tersebut. Jumlah cairan yang masuk dan keluar akan dicatat jumlah dan kualitas nya di dalam buku catatan harian.
“Tidak perlu khawatir, karena setiap pasien yang akan menjalani peritoneal dialisis akan diberikan pelatihan oleh tim ahli sampai pasien dan keluarganya dapat melakukannya dirumah dengan benar,” terangnya.
Namun begitu, lanjutnya, setiap pilihan terapi tentunya juga memiliki kekurangan. Cuci darah metode ini menyebabkan perut kembung karena terisi cairan, juga meningkatkan terjadinya hernia karena tekanan perut yang meningkat, serta infeksi peritoneum (peritonitis) jika tidak dilakukan dengan bersih.
Kunci dari keberhasilan penggunaan CAPD adalah dengan disiplin yang tinggi untuk selalu menjaga kebersihan tangan, menghindari kipas angin dan AC yang tetap menyala selama proses dialisis, serta harus dikerjakan dalam ruagan yang pencahayaannya cukup.
“Dengan CAPD, pasien gagal ginjal memiliki harapan hidup yang lebih baik, dan metode ini dapat dikatakan sebagai teman hidup baru,”pungkar dr. Ade Erna.**[Dady]

Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar