Warga OTD Sebut Terjadi Ketimpangan di Jatigede

Jatigede,Korsum
Warga terdampak Waduk Jatigede menilai telah terjadi ketimpangan dalam mega proyek waduk tersebut. Pasalnya, kontruksi bangunan fisik waduk tersebut sudah berdiri megah hampir dua tahun ini dengan menopang jutaan kubik air yang menggenangi beberapa desa yang ada di beberapa kecamatan wilayah timur Kabupaten Sumedang. Namun, dibalik megahnya bangunan fisik waduk tersebut masih tersimpan banyak permasalahan.
Salah satunya pemerintah belum bisa memperbaiki infrastruktur sarana umum di wilayah-wilayah sekitar waduk tersebut, oleh sebab itu dampaknya kepada masyarakat sangat buruk.
"Saya menilai kalau program mega proyek yang merupakan program nasional ini, terjadi ketimpangan, karena pemerintah hanya mengurus dan mementingkan fisik waduknya saja, sementara infrastruktur di sekitar waduk masih buruk, khususnya di wilayah yang terisolir di Kecamatan Jatigede seperti Ciranggem, Mekar asih, Cisampih dan desa-desa disekitarnya," kata salah satu warga yang ada di Mekarasih, Engkos Kosim.
Tragisnya, kata dia, kondisi infrastruktur jalan lingkar timur yang saat ini pengerjaannya molor membuat warga semakin terpuruk dan kesulitan untuk mengembangkan ekonominya. Kondisi mobilitas di beberapa desa itu nyaris lumpuh karena jalan lingkar sebagai pengganti jalan-jalan yang terendam belum bisa dilalui.
"Yang menjadi hambatan utama belum terealisasinya jalan lingkar timur yang bisa menjadi roda penggerak ekonomi masyarakat," kata dia.
Dia menyebutkan, kondisi infrastruktur jalan yang buruk dan belum terealisasinya jalan lingkar menyurutkan keratifitas masyarakat. Disebutkan, selama ini pemerintah menekan masyarakat untuk hidup kreatif agar bisa menggenjot perekonomian di masyarakat, dalam hal ini upaya masyarakat untuk kreatif memanfaatkan lahan kosong dan di tanami sayuran sudah dilakukan, namun pada saat tiba waktunya untuk mereka mengais hasil dari upayanya itu, masyarakat tersandung lagi oleh pemasarannya, sebab untuk memasarkan hasil perkebunannya itu ke pusat kota butuh biaya yang sangat tinggi untuk mobilitasnya.
Dia menggambarkan, jika hasil yang akan didapat dari upaya berkebunnya itu 50 ribu, justru ongkos yang harus mereka keluarkan untuk menjual hasil berkebunnya bisa mencapai 70 ribu, hal itu tidak mungkin dilakukan oleh masyarakat, oleh sebab itu banyak sayuran yang tidak laku dan dijadikan makanan untuk kambing.
"Segencar apapun pemerintah mendorong masyarakat untuk kreatif, kalau sarana penunjangnya tidak diperhatikan tetep tidak akan maju," katanya lagi.
Sementara itu, warga lainnya, Komarudin yang merupakan tokoh masyarakat terdampak waduk tersebut menilai, dampak dari molornya pengerjaan jalan lingkar timur menjadi penyebab utama meningkatnya kemiskinan di wilayah desa-desa terisolir karena ulah waduk tersebut.
Selain itu, kondisi jalan lingkar saat ini juga menutup peluang pihak lain yang mau menanam investasi di sekitarnya. Menurutnya para investor itu bisa membantu memperbaiki ekonomi masyarakat.
"Dari dulu sudah saya sebutkan, kalau program nasional ini (pembangunan Waduk Jatigede) meskipun pembahasannya lebih dari 30 tahun tetap saja perencanaannya itu mentah, faktanya ya seperti ini, kalau memang rencananya matang tidak ada dampak negatif seperti ini," paparnya.**[F.Arif]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar