Orangtua Siswa Keluhkan Anaknya Belum Menerima Raport

 Kota, Korsum
Beberapa orang tua siswa, keluhkan dunia pendidikan di Kabupaten Sumedang. Pasalnya, sejak dua tahun lalu kelulusan sekolah anaknya, raport yang dibawa siswa hanya dua lembar kertas raport sementara dan hingga saat ini belum menerima buku raport asli.
Seperti dikatakan oleh Asep H, salah seorang orangtua siswa yang anaknya sudah lulus di SMPN 1 Sumedang beberapa waktu lalu dan hingga saat ini belum menerima raport asli dan hanya menerima dua kertas raport sementara. “Ya intinya kita sebagai orangtua kan tentunya kecewa ketika lulus anak saya hanya menerima raport sementara dan hingga saat belum juga menerima buku raport asli,” keluhnya, pada Korsum Kamis (12/10) 
Dikonfirmasi akan hal tersebut, Kepala Bidang SMP, pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, mengatakan, anggaran untuk pengadaan buku raport kembali dicoret pada anggaran perubahan, maka sampai saat ini, para siswa SD dan SMP hanya menerima buku raport sementara saja.  Padahal, buku raport ini benar-benar sangat urgen.
"Alokasi anggaran untuk buku raport sudah dicoret lagi. Tidak dianggarkan pada APBD perubahan. Sudah dua tahun ini siswa sekolah tidak menggunakan buku raport asli, hanya memakai raport sementara," ujar Rusyana beberapa waktu lalu.
Sementara itu Sekretaris Komisi C DPRD Sumedang, Dadang Romansyah, mengatakan, kebutuhan raport tersebut sudah dibahas dan disampaikan. "Kami sudah sampaikan soal kebutuhan raport tersebut. Bahkan saya yakin Disdik pun sudah menyampaikannya berulang kali ke TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah)," ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan teleponnya Jumat (13/10).
Dadang mengakui, dalam pembahasan anggaran perubahan, pihaknya kesulitan dalam menentukan penganggaran kegiatan yang harus diprioritaskan. "Terus terang saja dalam pembahasan anggaran perubahan di hari terakhir kami kesulitan untuk menentukan mana kegiatan yang akan didanai dan mana yang dicoret. Karena defisit anggaran sangat besar. Sementara anggaran yang tersedia sangat tidak mencukupi," tutur Dadang.
Artinya, tambah dia, bukan berarti pihaknya abai terhadap ketersediaan buku raport asli. Malah pihaknya menilai buku raport harus menjadi prioritas. "Rekan-rekan di Komisi C khususnya yang ada di badan anggaran pun sudah maksimal memperjuangkan itu," katanya lagi.

Dadang menegaskan, pihaknya tidak pernah mencoret penganggaran buku raport. Namun sepertinya karena berhubung terjadi defisit yang sangat besar, makanya tidak teranggarkan. "TPAD yang mempertimbangkan dan mengkaji secara teknis mana yang paling urgen diantara kegiatan yang ada. Tapi perlu diketahui bahwa kami tetap menilai pengadaan buku raport adalah prioritas," pungkasnya.**[Acep Shandy]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar