Satpol PP Dikejar Utang

 Kota, Korsum
Pembongkaran raturan lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) depan Pasar Sumedang Kota, belum lama ini berjalan cukup aman dan lancar. Aksi pembongkaran yang melibatkan puluhan anggota Satpol PP dan sejumlah anggota keamanan, kerja keras siang malam. Bahkan, material bekas lapak PKL yang berserakan di area pasar, malam itu juga bersih diangkut puluhan petugas kebersihan.
Namun setelah kegiatan itu, Pol PP dihadapkan kepada persoalan utang yang melilitnya. Ternyata, untuk biaya operasional penertiban ratusan PKL itu, Pol PP gudar-gedor cari pinjaman uang yang hingga saat ini masih belum terbayar. Alhasil, Pol PP dikejar-kejar orang menagih utang, termasuk  pengurus PKL yang dipinjam uangnya.
Kasat Pol PP Sumedang, H. Asep Sudrajat mengakui hal itu. Namun kata dia, cari pinjaman uang kesana-kemari hanya ingin melakukan terbaik untuk Sumedang sesuai tugas dan fungsinya dalam melancarkan  program Pemda mewujudkan pasar kota Sumedang yang indah, bebas PKL.
Asep mengaku, cari uang pinjaman Rp 50 juta dari beberapa orang, hanya untuk menggalang biaya operasional puluhan petugas. Namun katanya,  setelah beres roes ratusan lapak PKL itu hilang sirna di pasar kota, pihaknya dikejar-kejar utang.
“Operasi bersih ratusan lapak para PKL itu diperhitungan akan telan biaya sekitar Rp 65 juta, bahkan jika ditambah dengan lapak PKL di Taman Endog, diperhitungkan akan habis biaya Rp 100 juta. Namun Pemda hanya memberi Rp 30 juta yang nilainya jauh dari perhitunagn,” kata Kasat di ruang kerjanya, Senin (31/11).
Namun karena ingin tuntas setuntas-tuntasnya, lanjut Kasat, terpaksa pinjam Rp 13 juta dari pengurus PKL, padahal PKL itu yang akan ditertibkan. Disamping itu, pinjam juga Rp 2 juta ke PKL Alun-alun Sumedang dan beberapa orang lagi termasuk tukang kayu dan pengusaha galian C.
“Biaya itu makan makan minum puluhan petugas yang bekerja siang malam membongkar ratusan lapak PKL. Bahkan bayar Rp 3 juta untuk para petugas kebersihan (BLH) yang menurunkan sekitar 30 orang tenaga harian lepas  yang hingga malam itu juga material bekas lapak PKL, bersih diangkut beberapa truk,” ujarnya.
Seharusnya, para kepada SKPD terkait menyaksikan ketika puluhan anggota Pol PP membongkar dan pembersihan lapak PKL pasar itu. Namun, lanjut Asep, merasa tidak dihargai Pemda atas hasil kerja kerasnya, termasuk bebang utangnya yang seolah mau cuci tangan terhadap utang yang melilitnya.
“Saya mencoba SMS ke bupati termasuk Sekda soal tagihan utang biaya penertiban PKL, tapi jabawannya tak respon seolah tak mau tanggungjawab dan mau cuci tangan persoalan utang ini,” tandasnya.**[yf saefudin]


Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar