Penyakit Jantung Koroner Sebagai Pembunuh Nomor Dua Di Dunia

Kota, Korsum
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan pembunuh nomor dua setelah stroke. Berdasarkan survei Sample Regristration System (SRS) pada 2014, angka kematian akibat penyakit jantung koroner di Indonesia adalah 12,9%, berdasarkan RISKESDAS 2013 angka prevalensi PJK pun cukup tinggi, yaitu sekitar 1,5, dan berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tahun 2016, PJK menghabiskan biaya paling tinggi yang meningkat tiap tahunnya sejak tahun 2015.
Salah seorang dokter spesialis jantung di RSUD Sumedang, dr. Astri Astuti, SP.JP menyebutkan, PJK terjadi akibat adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner sehingga menyebabkan penurunan aliran darah ke otot jantung.
Kondisi tersebut menyebabkan rasa nyeri pada dada yang dirasakan terutama saat sedang beraktivitas. Dan PJK lebih lanjut dapat menyebabkan pompa jantung melemah, kemudian menimbulkan gagal jantung,” katanya, Kamis (30/11) di kantornya.
Astri menuturkan, PJK sebagian besar disebabkan oleh sumbatan plak aterosklerosis pada dinding pembuluh darah yang terbentuk dari kolesterol densitas rendah/Low density Lipoprotein (LDL), sel-sel radang, dan kolagen. Pembentukan plak aterosklerosis di pembuluh darah sebenarnya mulai terjadi sejak bayi, namun kecepatan pembentukannya tergantung pada gaya hidup, seperti pola makan yang tinggi kolesterol, kurang aktivitas fisik, merokok, dan tingkat stress yang tinggi.
“Ada juga dari faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi/hipertensi, kadar kolesterol darah tinggi, diabetes mellitus, kegemukan/obesitas, dan riwayat keluarga yang menderita PJK pada usia < 55 tahun (laki-laki) dan <65 tahun (perempuan),” tuturnya.
Untuk mengetahui PJK, kata Astri, kenali keluhan yang timbul. Seperti nyeri dada yang menjalar ke leher, rahang bawah, punggung, dan lengan kiri atau kedua lengan. Nyeri biasanya dirasakan saat beraktivitas.
“Tapi jika terjadi serangan jantung yang mendadak karena pecahnya plak aterosklerosis, nyeri dapat dirasakan secara mendadak pula saat tidak beraktivitas dan disertai keluhan tambahan seperti keringat dingin, mual, atau muntah. Maka segeralah pasien dibawa ke Instalasi Gawat Darurat,” katanya.
dr. Astri mengungkapkan, sebenarnya masyarakat yang tidak memiliki faktor risiko PJK dapat mencegahnya dengan menerapkan langkah CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kendalikan stress).
“Dengan langkah CERDIK yang digalakkan Kemenkes RI ini diharapkan dapat menurunkan biaya pengobatan dan angka kematian,” ungkapnya.
Cek kesehatan berkala sebaiknya mulai dilakukan sejak usia 20-an. Pemeriksaan dilakukan melalui skrining pengukuran tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah. Aktivitas fisik yang disarankan untuk mencegah PJK, yaitu aerobik sedang (berjalan cepat, bersepeda, dan tenis ganda) selama 150 menit seminggu atau 30 menit per hari selama 5 hari per minggu.
Aktivitas aerobik berat (jogging, bersepeda cepat, dan tenis tunggal) selama 75 menit seminggu atau 15 menit per hari selama 5 hari per minggu. Diet sehat yang disarankan adalah rendah kolesterol, seperti jeroan (otak, usus, babat, dll).
Disarankan untuk meningkatkan konsumsi sayur mayur, buah-buahan, dan ikan laut atau ikan air tawar). Pola makan yang baik dapat menjaga berat badan agar tetap ideal, sehingga tidak terjadi kegemukan/obesitas. Indeks massa tubuh >23 kg/m2 dan lingkar perut >94 cm (laki-laki), dan  >80 cm (perempuan).
Permasalahan psikis seperti stres, depresi, dan kecemasan juga dapat meningkatkan risiko PJK. Namun hal ini sulit dihindari, baik di lingkungan kerja maupun keluarga. Pengelolaan stres, depresi, dan kecemasan yang baik akan menurunkan risiko PJK,” terang Astri.
Bagi orang yang telah didiagnosis menderita PJK dan menjalani pengobatan, sebaiknya tetap harus mencegah terjadinya serangan jantung yang berulang dengan menerapkan langkah PATUH (Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter, Atasi penyakit dengan pengobatan tepat dan teratur, Tetap diet sehat dengan gizi seimbang, Upayakan beraktivitas fisik dengan aman, Hindari rokok, alkohol, dan zat karsinogenik lainnya).
dr. Astri menyarankan, penderita PJK harus rutin memeriksakan kesehatan dan mengkonsumsi obat sesuai anjuran dokter. Pola makan yang baik harus tetap dijaga agar tidak mempercepat pembentukan plak aterosklerosis baru.

Meskipun telah mengalami serangan jantung, menjalani kateterisasi jantung dan pemasangan ring/stent, atau operasi by pass, penderita PJK tetap dapat melakukan aktivitas fisik, namun harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Tetaplah berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah,” pungkasnya.**[Hendra|Dady]
Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar