Tol Ciherang Diancam Naik Harga

Sumut, Korsum
Realisasi ganti-rugi Tol Cisundawu Desa Ciherang Kecamatan Sumedang Selatan, dibumbui ancaman warga OTD Tol karena Desember ini berharap besar tuntas dibayar. Namun,  seandainya  Desember ini pembebasan Tol itu tidak dibayar, maka warga akan menaikan kembali harga tanah plus bangunan.
Meski masih ada yang komplen, tapi hanya sebagian kecil terutama pada harga bangunan. “Kemarin verifikasi lapangan lagi PPN, PPK dan tim Apresal sehingga lahan di Rw 05 Dusun Sabagi 2 habis akan dibebaskan,” kata Kasipem Desa Ciherang, Mari Haryati, di kantornya, Selasa (12/12).
Total 1127 berkas berupa tanah dan bangunan milik 320 KK yang informasinya siap dibayar Desember ini.  Bahkan, rencana pembayaran itu berdasarkan urutan peta dari mulai peta satu yakni Dusun Rancamaya hingga peta sepuluh yang mencakup dua dusun yakni Dusun Sabagi satu dan Sabagi dua.
“Berdasarkan informasi bahwa ganti rugi Tol untuk Desa Ciheranng ini akan dilaksanakan pada minggu ketiga di bulan Desember ini (2017).  Dibayar melalui pihak ketiga yakni BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) yang beralamat kantor di Jakarta,” jelas Mari.
Disebutkan, dari jumlah 320 KK yang akan diganti rugi itu, ada sebagian warga relokasi yaitu OTD yang sebelumnya pernah pendapat ganti-rugi. Sehingga jika Desember ini dibayar maka warga OTD itu akan mendapat dua kali ganti rugi.
Ada beberapa warga relokasi karena dulu terusir kena jalur Tol. Namun lanjut Mari, karena jalur Tol di blok Sarongge tanahnya terlalu labil sering anjlok, maka terjadi pemindahan jalur Tol, dan tanah warga relokasi itu kena lagi  sehingga Desember ini kembali akan mendapatkan ganti rugi.
“Ganti- rugi itu diperkirakan akan menghabiskan anggaran sekitar Rp 355 miliar bagi yang sudah di PH (Pelepasan Hak). Warga  tak mau tahu yang penting Desember ini harus cair dan jika tidak, maka warga akan menaikan harga tanah. Terkecuali yang masih komplen karena itu diluar kontek,” tandasnya.
Ditambahkan, aset desa berupa tanah dan bangunan masih belum dibebaskan, karena terganjang soal tanah pengganti  yang hingga saat ini masih belum ada. Dulu pernah akan dibebaskan senilai Rp 1,3 miliar dengan luasan tanah sekitar 15 bata.
Bahkan bangunan desa dikategorikan bangunan semi permanen sehingga waktu itu ganti rugi aset desa ini ditolak. Luas tanah desa sebenarnya 19 bata dan bangun desa bukan semi permanen maka ditaksir dengan harga sekaranga bisa mencapai Rp 3 miliar lebih.**[yf saefudin]



Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar