Anida Idap Virus Langka, Penderita Polineuropati Ini Butuh Ratusan Juta Rupiah


Kota, Korsum
 Nasib malang menimpa Anida Hamidah (15), anak perempuan yang mengidap penyakit langka ini, kondisi kesehatannya saat ini terbilang memperihatinkan, dirinya didiagnosa oleh dokter mengidap virus langka yang menyerang sel saraf. Bagaimana tidak, ia harus melakukan rawat inap di ruang ICU RSUD Sumedang, dengan alat-alat khusus dan bantuan oksigen, dan kantung oksigen yang menempel dimulutnya setiap saat.
Sulit rasanya untuk berkomunikasi, sebab ketika makan harus memakai bantuan selang, sehingga asupan makanan yang bisa diterimaa oleh mulutnya hanyalah susu, itupun terbatas. Begitu juga untuk keperluan buang air, selang harus dipersiapkan, karena Anida tidak bisa berjalan, saraf dibagian kaki terserang oleh sebuah virus langka yang belum ditemukan obatnya.
Anida merupakan anak dari pasangan Adang (47) dan Ai (39), warga Rt 01/Rw 01, Dusun Pabuaran, Desa Sukawening, Kecamatan Ganeas. Sehari-hari Anida bersekolah di SMPN 1 Ganeas seperti biasanya.
Menurut Ai, tak lain adalah ibu Anida, bahwa sebelumnya pada tanggal 22 Desember 2017 lalu, Anida sempat sakit panas biasa dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan akan ada penyakit yang serius.
“Waktu itu pas tanggal 22 Desember 2017, Anida memang sempat sakit panas sekujur tubuh, namun tidak terlalu panas hanya panas biasa, jadi saya kasih obat antibiotik aja yang dikasih dokter, udah itu 3 sampai 4 hari  ya udah sembuh seperti biasa. Kemudian pas menjelang malam tahun (31/12/2017) pagi-pagi, Anida mendadak mengeluh lemas, sebab kan dia itu aktif di sekolahnya mungkin ya saya pikir kelelahan apa gimana, gitu katanya lemes pada bagian kakinya. Kemudian saya periksa ke dokter, kata dokter ini harus dirujuk ke rumah sakit, akhirnya saat itu di malam tahun baru 2018 saya bersama keluarga membawa Anida ke RSUD untuk dibawa ke ruang ICU,” kata Ai, saat ditemui Korsum, di RSUD Sumedang, Rabu (9/1).
Ai juga mengatakan, bahwa pihak rumah sakit menyarankan dirinya untuk membawa Anida ke RSHS Bandung, namun dikarenakan layanan rumah sakit sedang penuh, ia terpaksa menjalani rawat inap di RSUD Sumedang dengan mengandalkan BPJS dan KIS.
“Memang kata rumah sakit harus dirujuk ke Hasan Sadikin, tapi katanya layanan rumah sakit sedang penuh jadi kami terpaksa bermalam disini setiap hari. Selama pengobatan Anida hanya memanfaatkan KIS dan BPJS, jadi untuk rawat inap pakai KIS sedangkan untuk sarana penunjang seperti obat, oksigen itu mengandalkan BPJS. Tadi juga dia sempat mengeluarkan seperti dahak atau apa saya tidak tau percis jadi setiap waktu harus mendapatkan perawatan khusus,” terangnya.
Lebih jauh Ai mengatakan, dirinya sangat keberatan dengan biaya obat khusus yang harus ditanggungnya sebesar 150 juta rupiah, obat tersebut berbentuk serum yang harus disuntikan kepada Anida, namun harga serum tersebut seharga 30 juta rupiah dan Anida harus menjalani 5 kali suntikan agar kondisi penyakitnya berangsur membaik. Sebab ayah dari Anida, Adang yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan tentu tidak bisa menyediakan uang sebesar ratusan juta  rupiah.

“Saya harap anak saya cepat sembuh, sebab kasian ia harus meninggalkan sekolah, meninggalkan pergaulan dengan teman-temannya. Saya juga merasa terpukul dengan biaya obat suntikan yang harus dibeli di luar BPJS seharga 30 juta per suntikan, dan itu harus dilakukan rutin selama 5 kali. Tentu saya tidak punya uang sebesar itu, selain itu juga Anida selalu menangis karena kesel, sudah 12 hari ia dirawat disini. Oleh karena itu saya berharap Anida bisa sembuh dan ada dermawan yang mau membantu pengobatan Anida, intinya saya berharap Anida normal kembali bisa bersekolah lagi,” tuturnya.**[F.Arif]
Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar