Jembatan Cibenda Makin Mengkhawatirkan

 Sumut, Korsum
Peringatan pemerintah soal berat beban kendaraan yang tidak boleh melebihi 5 ton melewati jembatan Cibodas Desa Girimukti Kecamatan Utara, tampaknya tidak diindahkan para sopir kendaraan berat. Bahkan saat ini, kendaraan berat yang mencapai 24 ton semakin padat melalui jembatan itu.
Masyarakat setempat semakin khawatir dan was-was melihat kondisi jembatan yang secara terus menerus bahkan siang dan malam dilalui kendaraan berat proyek Tol Cisundawu yang beratnya melebihi kapasitas kekuatan jalan tersebut. Bahkan pihak proyek juga tak menghiraukan keutuhan jembatan itu.  
“Kami khawatir jembatan itu roboh karena padatnya kendaraan berat melebihi kekuatan jembatan. Aktivitas proyek Tol Cisumdawu mengancam keutuhan jembatan, yang seharusnya ada perhatian dari pihak proyek,” ujar Asep warga itu, Kamis (18/1).
Dilansir koran ini diedisi sebelumnya menyebutkan, Pemda Sumedang sudah peringatkan melalui papan tulisan yang dipasang hampir disetiap ruas jalan dari mulai Patung Kuda Samboja hingga pertigaan Desa Mulyasari Kecamatan Sumedang.  Tulisan itu menyebutkan, hati-hati muatan maksimal 5 ton.
Namun sepertinya, peringatan Pemda itu tak pernah diindahkan para pengemudi kendaraan berat yang seolah tak sadar bahwa truk Toronton dengan berat muatannya itu hampir 24 ton. Truk itu hilir-mudik setiap saat dijalan provinsi yang punya kekuatan hanya 5 ton.
Dibenarkan Kades Girimukti, Adang Arifin, akibat sering dilalui truk Toronton kebutuhan aktivitas pengerjaan proyek jalan Tol Cisundawu, saat ini kondisi jembatan Cibenda terancam roboh. Bahkan beberapa tembok tanggul pembatas jembatan itu roboh amburadul hingga berjatuhan dibawah kolong jembatan akibat tersenggol pantat Toronton.
Tanggul jembatan itu sering rusak, tapi sering diperbaiki PT. WIKA selaku pelaksana proyek Tol. Namun akibat seringnya tembol tanggul jembatan roboh, akhirnya dibiarkan tergeletak dibawah jembatan. “Kami tidak lagi melaporkan kepada WIKA, sebab jalan itu kewenangan provinsi dan juga masuk wilayah pekerjaan Tol Desa Mulyasari,” ujar kades, di kantornya waktu itu.
Kades menambahkan,  di malam hari keadaan jalan itu gelap gulita karena tidak adanya penerangan jalan atau PJU. Akibatnya, sering kali terjadi kecelakaan kendaraan roda dua atau empat termasuk kendaraan proyek Tol terperosok keluar dari jalur badan jalan.
“Kami minta kepada pemerintah soal penerangan jalan umum (PJU) itu. Sebab gelapnya ruas jalan yang aktivitas kendaraannya cukup padat, sering dikeluhkan masyarakat karena tak hanya soal tidaknya PJU, namun minimnya rambu-rambu lalu lintas disepanjang jalan itu,” katanya.**[yf saefudin]



Share on Google Plus

About Man Koswara

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar