Kisruh, Rastra Gratis Salah Sasaran


 Sumut,  Korsum
Beras Sejahtera (Rastra) yang dibagikan secara gratis dinilai salah sasaran sehingga memicu kekisruhan diantara warga. Keluarga miskin (Gakin) yang benar-benar miskin dan layak mendapatkan Rastra, ternyata gigit jari.  Malah justru, Rastra gratis itu mengalir kepada keluarga mapan.
Seperti terjadi di Desa Mulyasari Kecamatan Sumedang Utara. Karena terjadi kisruh pembagian Rastra,memaksa para Rt dan Rw kumpul musyawarah cari solusi. Akhirnya sepakat, bahwa Rastra yang disalurkan kepada keluarga mapan harus dibagikan kembali secara merata kepada keluaga miskin yang tidak tercatat pada data yang diterima desa.
“Kami bingung dan tidak mengerti dengan data penerima Rastra. Warga miskin tidak mendapatkan,  malah warga mapan anu lega sawahna tercatat sebagai penerima Rastra. Data yang diterima desa itu benar-benar salah sasaran,” ujar Isqi, tokoh masyarakat Mulyasari, saat ditemui di rumahnya, Jumat (9/2).
Sebelum Rastra itu dibagikan, kata dia, seharusnya pemerintah melakukan pendataan ulang terhadap warga yang lebih berhak menerima Rastra gratis itu. Sehingga tidak terjadi salah sasaran dan  kekisruhan diantara warga pemerima Rastra.
Kades Mulyasari, Deni Heripan, ketika ditemui di kantornya, Jumat (9/2), saat itu dia tidak ada ditempat. Namun menurut salah satu perangkat desa menyebutkan, data penerima Rastra yang diterima desa, langsung dari pusat.
“Data pusat, 453 warga Mulyasari penerima Rastra. Namun data ini salah karena ada beberapa warga yang sudah pindah domisili bahkan ada juga yang sudah lama meninggal, masih tercatat di data sebagai penerima Rastra. Sehingga data pusat ini tidak tepat sasaran,” kata dia yang mengaku bingung dan pusing dengan data pusat.
Padahal tahun 2017 lalu, desa sudah memfalidasi data Gakin. Namun data yang diterima desa tidak valid karena karena yang diturunkan data tahun 2012. Lebih membingungkan lagi, Rastra gratis itu  tidak boleh disalurkan kepada warga yang tidak tercatat di data pusat, sementara banyak warga miskin yang tidak tercatat didata itu.
“Warga miskin komplen hingga protes ke desa karena disangka desa yang melakukan mendataan. Untuk sementara ini, agar tidak terjadi kisruh lagi maka penyaluran Rastra  akan dibagikan secara merata  meskipun tiap Gakin hanya menerima 2 kg,” tandasnya.
Kartu Rastra
Dilansir koran ini diedisi sebelumnya. Kabid Fakir Miskin Dinas Sosial Pemprov Jabar, Tatang Subarna di IPP menyebutkan, Kementerian Sosial RI meluncurkan Bansos Rastra  dalam bentuk beras berkualitas medium untuk para Gakin sebagai Kelompok Penerima Manfaat (KPM). Rastra 10 kg gratis akan dibagikan per-Gakin tiap bulan.
Namun sekitar Juni-Juli, kata dia, Rastra ini akan dialihkan lagi kepada Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dimana per-Gakin akan mendapatkan kartu Rastra yang sudah diisi uang Rp 110. Bisa diambil tiap bulan di Elektronik Warung Gotong- Royong (E-Warong) yang sudah dibentuk dan ditunjuk pemerintah.
Dikatakan, Kemensos sudah melakukan pendataan secara falidasi dan verifikasi kepada masyarakat penerima KPM sesuai UU no 11 tahun 2011 bahwa data kemiskinan By Name By Adress dikeluarkan Kemensos yang sekarang sudah diserahkan kepada Pemkot dan Pemkab.
Rastra ini ingin tepat waktu, tepat sasaran dan tepat jumlah, sehingga tak ada lagi penyalahgunaan. Namun data tersebut tiap tahun selalu berubah tidak Up Date sehingga Pemda harus usulkan lagi ke gubernur dan Kemensos jika ada Gakin yang belum terdata.
 “Untuk Sumedang sudah dipersiapkan sekitar 81.528 ribu kartu Rastra yang  akan dibagikan ke tiap desa. Namun jika ada Gakin yang belum terdata,  maka daftarkan kepada kadesnya untuk diusulkan kepada bupati yang nantinya ke gubernur dan Kemensos,” katanya.**[yf saefudin]






    

Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar