Warga Margalaksana Tuntut Janji Pemborong


Sumsel, Korsum
Pelaksanaan pembangunan jalan Lebak Huni – Kareumbi sudah dianggap selesai meski sekarang masih mengerjakan beberapa drainase dibeberapa titik. Panjang jalan Labak Huni – Kareumbi tersebut kurang lebih 4 km, dibalik itu semua ada janji pemborong kepada warga Margapala akan dibangun jalan aspal dengan panjang dari Desa Margalaksana ke dusun Margapala 1 km lebih dan dari Desa Margalaksana ke perbatasan dengan Desa Mekar Rahayu 1 km lebih, hingga saat ini belum terealisasi sehingga warga terus mendesak Kepala Desa Margalaksana.
Menurut warga Margalaksana dan warga Cilayung yang meminta namanya tidak disebutkan bahwa warga keukeuh akan menagih janji pemborong, karena pemborong sudah menyanggupinya setelah selesai pembangunan jalan Labak Huni – Kareumbi. Namun, pada kenyataannya hingga saat ini janji tinggal janji.
“Kami hanya meminta keadilan saja, jangan sampai pembangunan jalan itu hany Lebak Huni – Kareumbi, lalu kami sampaikan kepada pemborong dan pemborongpun menyanggupinya, intinya akan dibangun dengan jalan aspal di hotmix. Hingga saat ini, masih saja belum ada tanda tanda akan dibangun, lalu kami sampaikan hal ini ke pak Kades Margalaksana, dan pak Kades katanya akan menyapaikan apa yang di minta warganya,” jelasnya, saat diKonfirmasi Korsum, Kamis (8/2).
Dikonfirmasi Korsum, Kepala Desa Margalaksana, Andre Y Mochtar, membenarkan adanya desakan warga, sehingga dirinya membuat surat kepada pemborong dalam hal ini PT. Tugu untuk mempertanyakan janji janji pemborong kepada warganya. Suatu kewajaran warga mempertanyakan karena pembungunan jalan Lebak Huni – Kareumbi sudah selesai.
“Adanya janji pemborong itu karena permintaan warga, warga Margapala meminta jalan nya ingin di aspal hotmix juga dalam hal ini sama dengan jalan Lebak Huni – kareumbi, bukan hanya itu, pemborongpun menyanggupi juga warga Cilayung sehingga akan dibangun dari Desa Margalaksana hingga ke perbatasan dengan Desa Mekar Rahayu, namun janji itu masih belum di tepatinya meski kami dari pihak desa sudah melayangkan surat kepada pemborong dalam hal  ini PT. Tugu,” jelasnya, saat Kamis (8/2), di ruang kerjanya.
Proyek relokasi ini anggrannya Rp 11,3 milyar, kata Kades Andre, jadi pihaknya memohon pengertian pihak pemborong, karena segala bentuk permasalahan aparat desa lah yang selalu kena getahnya dan fitnah. Jelas jelas pihak desa hanya sebatas mempasilitasi soal lainnya itu kewenangan dari Dinas PU PR Kabupaten Sumedang, BPBD Sumedang dan PT.Tugu sebagai pelaksana pembangunnnya.
Sama halnya apa yang dikatakan anggota BPD Desa Margalaksana, Agus, meminta pertanggungjawaban pihak pemborong soal Tembok Penghalang Tebing (TPT) yang di keruk karena pelebaran jalan, sementara, TPT nya belum dibangun kembali di blok Rw 05 oleh pemborong.
“Membangun TPT itu, dulu oleh pemilik rumah yang lahannya hampir longsor ke jalan. Tentunya, tidak sedikit uang yang dikeluarkan bahkan hingga jutaan, namun kini, setelah pelebaran jalan, pihak pemborong belum juga meresponnya, padahal saya sudah menyampaikan aspirasi warga ke pemborong untuk dibagun kembal TPT tersebut,” ungkapnya, saat dikonfirmasi Korsum, Jumat (9/2), di kediamannya.**[Dadi]

Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar