TRAUMA KIMIA PADA MATA


Kota, Korsum
Trauma kimia adalah luka yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang dapat berbentuk padat, cairan, serbuk, ataupun gas. Masyarakat harus mengenali bahan kimia berbahaya, karena beratnya trauma kimia bergantung pada pH, volume, lamanya kontak, dan toksisitas dari bahan kimia tersebut.
Demikian dikatakan dr. Ira Verawati, SpM, salah seorang dokter Spesialis Mata di RSUD Sumedang, Rabu (21/2) di ruang prakteknya.
dr. Ira menyebutkan, trauma kimia pada permukaan mata merupakan masalah yang umum dijumpai. Itu disebabkan bahan-bahan kimia tersebut tersemprot atau terpercik pada wajah.
“Tingkat keparahan cedera karena trauma kimia bervariasi, mulai dari iritasi yang ringan hingga kerusakan epitel kornea, kebutaan, bahkan hilangnya mata. Trauma kimia ini dapat terjadi di rumah, tempat kerja, maupun akibat tindak kejahatan,” terangnya.
Penyebab cedera kimia adalah asam dan basa. Menurutnya, asam kuat yang menyebabkan cedera termasuk sulfat, klorida, nitrat, dan fluorida, sedangkan basa yaitu amonium hidroksida, natrium hidroksida, kalium hidroksida, magnesium hidroksida, dan kalsium hidroksida.
“Bahan kimia yang menyebabkan kerusakan yang berat yaitu yang disebabkan oleh basa. Asam menyebabkan cedera dengan spektrum luas dari keratokonjungtivitis ringan hingga kebutaan bilateral, bergantung pada konsentrasi, kekuatan, dan lamanya paparan,” jelasnya lagi.
dr. Ira mengungkapkan, untuk penanganan trauma kimia berupa Irigasi yaitu menggunakan larutan isotonik dengan pH netral, seperti larutan salin normal atau ringer laktat atau dapat juga menggunakan cairan nonsteril atau air keran jika tidak ada cairan steril selama minimal 30 menit atau 1-2 jam atau sampai pH menjadi netral.
“Setelah irigasi 5-10 menit, pH pada forniks harus diukur menggunakan kertas litmus. Debridement yaitu menghilangkan jaringan nekrotik epitel kornea,” ungkapnya.
Bisa dilakukan Rawat Inap pada trauma derajat III dan IV. Dapat menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk mendorong reepitelisasi permukaan okular, menghentikan reaksi radang, mencegah infeksi, mengontrol tekanan intraokular, menghilangkan nyeri.
Pada trauma derajat III & IV dengan dilakukan pembedahan cangkok membran amnion, transplantasi sel stem limbus, operasi filtrasi glaukoma.
Trauma kimia merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan dalam bidang mata. Jika tidak dilakukan penanganan yang tepat dan segera, maka akan berisiko mengakibatkan kebutaan pada mata,” pungkas dr. Ira Verawati.**[Hendra]


Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar