Bisnis Bahan Bonsai Masih Menjanjikan


Kota, Korsum
Maraknya penggemar bonsai pemula membuat bisnis Babon (bahan bonsai) saat ini cukup menjanjikan. Para pencari babon terus berburu ke berbagai daerah. Mereka mencari bahan yang dianggap mempunyai potensi. Babon yg potensial adalah pohon jenis gulma seperti kaliage, gula gumantung, saradan, peueung dan pohon serut atai ficus yg teraniaya alam. Jadi berburu babon sama sekali tdk ada unsur merusak alam. Prinsip bonsai adalah merubah tunggul menjadi bermakna dan berharga (ekonomi kreatif).
“Suatu kebanggaan bagi mereka jika mendapatkan bahan yang termasuk istimewa. Namun, sedikit kesalahan dalam perburuan, pengambilan bahan dan pemotongan bisa berakibat fatal bahkan gagal total,” ujar H. Agus Wahidin selaku Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Sumedang, dalam setiap kali kunjungan dan pembinaan ke tiap ranting kecamatan.
Sebutnya lagi, kesalahan dalam memotong dahan ataupun membentuk rangka bonsai akan mengurangi harga bahan. Misalkan seharusnya harga bahan diatas Rp 1 Juta, karena salah memotong bahan hanya dihargai hanya Rp 400 ribu.
Kesalahan itu sering terjadi pada para pemburu bonsai. Pengalaman akan menjadi guru berharga dan menjiwai dalam membentuk bonsai. Sehingga para pebonsai itu kuncinya adalah membuka wawasan dengan cara bersulaturahmi dengan pebonsai lain yang lebih senior dan lebih berpengalaman dalam skala yang lebih luas, baik regional maupun nasional.
"Selain itu, sharing pun perlu dilakukan untuk mengetahui bentuk bonsai yang lagi tren," terangnya, kepada Korsum, di sela-sela kesibukannya, Jumat (7/4).
.Menurutnya, gaya bonsai yang disukai konsumen dan kolektor saat ini adalah bentuk klasik formal dan komtemporer. "Kedua bentuk masih menjadi tren dan dicari para kolektor," tandasnya.
Disebutkan Agus, berbagai jenis pohon lokal yg banyak disukai oleh para kolektor. Diantaranya, jenis serut, kaliage sisir, akasia punk, rukem, gula gumantung dan jenis pohon lainnya terutama ficuc
Menurut Agus, berbagai cara dilakukan oleh para pebonsai Sumedang untuk memasarkan hasil perburuannya. Seperti melalui media sosial facebook, WA dan lainnya. Namun, banyak juga yang datang langsung untuk melihat dan membeli bahan bonsai yang diperoleh dari hutan. Seperti dari Subang, Bandung serta Sumedang dan sekitarnya.
"Kami juga sering melakukan kopi darat dan berkumpul bersama anggota komunitas melakukan sharing. Disana dapat terlihat makin banyaknya penggemar bonsai," paparnya.
Ia menerangkan, harga babon tergantung dari bentuk bahan dan ukuran. Dirinya menjual harga bahan bonsai dengan kisaran rata rata antara Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta. 
Mereka menjual bahan yang kecil mentah dengan harga 100 ribu. Tetapi, apabila ukurannya besar dengan bentuk istimewa dipastikan diatas Rp 500 ribu. Bahkan, ada yang mencapai Rp 1 juta.
para penghobi bonsai tidak akan lekang dimakan waktu. Sebab, kata dia, diperlukan kesabaran dan waktu lama agar bonsai menjadi bagus dan menarik, dan ingat bonsai berbeda jauh dengan taman.
"Kalaupun sudah jadi, pemeliharaan harus tetap dilakukan. Apabila pemeliharaan tidak dilakukan secara intensif dan terus menerus, maka dipastikan bonsai akan kembali jelek dan tidak terurus," tutupnya.**[F.Arif]

Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar