Waduk Jatigede Diharapkan Memberi Manfaat Lebih Bagi Masyarakat Sumedang

Jatigede, Korsum
Keberadaan Waduk Jatigede yang terletak di Kecamatan Jatigede dan telah menjelma menjadi Waduk terbesar kedua se-Asia setelah Waduk Jatiluhur, diharapkan mampu memberikan manfaat lebih bagi warga masyarakat  Sumedang. Hal tersebut diutarakan Pjs. Bupati Sumedang, H. Sumarwan HS saat berkunjung ke Kantor Satuan Kerja Bendungan Jatigede Selasa, (3/4/18),

Keinginan Sumarwan yang sudah barang tentu merupakan keinginan dari seluruh warga masyarakat  Sumedang tersebut sangat beralasan, mengingat menurut keterangan Kepala Satker Bendungan Jatigede, Arya Muldianto, pada saat menerima kedatangan Bupati beserta jajaran di kantornya, diungkapkan Arya dari total 3.500 liter/detik alokasi air curah yang direncanakan BBWS Cimanuk-Cisanggarung untuk pengembangan SPAM Regional Jatigede, Kabupaten Sumedang hanya mendapat kapasitas air curah sebanyak 350 liter/detik dengan daerah yang terlayani yaitu Kecamatan Wado, Ujungjaya, Tomo, Darmaraja dan Jatinunggal.

Namun demikian, Bupati Sumarwan pun mengakui kalau keberadaan Waduk Jatigede yang memerlukan proses pembangunan lebih dari 50 tahun tersebut memiliki berbagai manfaat, diantaranya saja selain untuk penyediaan air baku, juga untuk keperluan daerah irigasi Rentang, solusi pengendalian banjir, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan berbagai manfaat lainnya.

“Oleh karena itu, maksud dari kedatangan kami saat ini adalah ingin mengetahui banyak baik dari segi manfaat sekaligus permasalahan yang berkembang sebagai dampak dari terbangunnya bendungan Jatigede ini, dan tentunya saya menginginkan manfaat lebih untuk warga Sumedang dari kehadiran waduk (Jatigede) ini,” ujar Sumarwan.

Terkait dianggap kurang proporsionalnya pembagian air baku bagi Sumedang, Sumarwan pun meminta pihak Satker untuk menghitung ulang pembagian air baku bagi Sumedang. Terlebih kedepannya beberapa kawasan seperti halnya Kecamatan Ujungjaya, akan dijadikan sebagai kawasan industri yang tentunya akan memerlukan lebih air baku.

Menanggapi keinginan pucuk pimpinan Sumedang itu, Arya berjanji untuk memperjuangkan kepada Direktorat Jendral Cipta Karya Kementerian PUPR, agar wilayah Kabupaten Sumedang mendapatkan lebih alokasi air curah dari yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun untuk realisasinya, dirinya juga masih menunggu Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumedang yang dijadikan dasar pengajuan.

Masih dalam kesempatan yang sama, dituturkan Arya dihadapan Bupati bahwa saat ini terdapat beberapa persoalan, yang salah satunya adalah telah banyaknya Keranda Jaring Apung (KJA) milik perorangan, yang hal tersebut bertentangan dengan RTRW Jatigede.

“Sebagaimana dikatakan Pak Gubernur (Ahmad Heryawan) saat kunjungan kesini (Jatigede) saat Hari Air Sedunia beberapa waktu lalu, beliau menyatakan bahwa Jatigede adalah Waduk yang bisa dibudidayakan untuk ikan tangkapan namun bukan untuk KJA. Sementara itu, hasil identifikasi kita sementara, sudah terdapat sebanyak 53 KJA yang tersebar di beberapa titik wilayah bendungan Jatigede milik perorangan,” paparnya.

Padahal, diakui Arya, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa Bendungan Jatigede tidak diperuntukan bagi itu (KJA). Berkenaan dengan permasalahan KJA, selain mengirimkan surat secara resmi kepada Bupati Sumedang, Arya pun telah berkirim surat kepada Gubernur Jawa Barat tepatnya pada bulan Maret 2018 lalu, guna meminta arahan lebih lanjut terkait keberadaan KJA di wilayah bendungan.

Menyikapi keluhan Arya, Bupati Sumarwan menegaskan bahwa sampai dengan saat ini, memang di seluruh kawasan bendungan tidak diperbolehkan adanya KJA, dan sebagai solusinya, profesi para pemilik KJA harus dialihkan dari pengusaha KJA menjadi nelayan ikan.

“Kita sepakati, jaring apung tidak ada di Jatigede. Nanti lah kita hubungi BPSDA untuk mencari landasan guna penertiban KJA ini,” tukasnya.

Selepas mengunjungi Kantor Satker Bendungan Jatigede, Bupati beserta rombongan bertolak menuju kawasan wisata Tanjung Duriat yang masih berlokasi disekitar desa tersebut

Warga Jatigede Harus Diberdayakan, Pemerintah daerah Sumedang melalui Dinas Pariwisata diharapkan mampu mendongkrak warga lokal untuk mengembangkan wisata di pesisir Waduk Jatigede. Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Perintis Pariwisata Jatigede (Kompepar), Engkos Kosim.

Menurutnya, hingga saat ini, warga Jatigede belum merasakan dukungan Pemda untuk mengolah potensi wisata Jatigede. Engkos menuturkan, sampai saat ini belum ada tata kelola wisata yang resmi. Namun, setidaknya Pemda harus mendorong pihaknya untuk bisa diperdayakan lebih untuk mengembangkan wisata di pesisir waduk Jatigede.

"Saat ini banyak warga lokal yang mengandalkan sektor wisata untuk mendapatkan penghasilan. Seperti menjadi supir perahu, berdagang di pinggiran pesisir sampai penyediaan tempat untuk pengunjung yang berkunjung ke pesisir," ujar Kosim kepada awak media, belum lama ini.

Diakui Engkos, saat ini warga lokal hanya mampu bekerja bagi pemilik modal. Seperti penyediaan perahu, pemiliknya kebanyakan merupakan warga luar daerah yang memiliki modal. "Orang sininya kan hanya buruh kerja," ungkapnya.

Potensi warga lokal sebetulnya bisa berkembang jika ada bantuan dukungan dari pemerintah daerah. Bantuan tersebut seperti modal, pelatihan serta penyediaan sarana dan pra sarana. Dikatakan, saat ini titik wisata yang banyak dikunjungi adalah tempat-tempat yang sudah dikelola sedemikian rupa. Dan tempat itu pemiliknya adalah pemodal besar.

Engkos mengharapkan kelompok wisata yang saat ini berdiri bisa dibantu dan diberdayakan oleh pemerintah daerah. Sehingga, bisa memberdayakan warga lokal dalam meningkatkan ekonominya. "Idealnya yang harus diberdayakan ya warga Jatigede sendiri. Karena saat ini banyak warga yang justru bergantung pada sektor wisata ini," tuturnya. **[F.Arif]
Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar