Benarkah, Ada Kongkalikong dan Persekongkolan Pada Seleksi Calon Komisioner KPU Sumedang?

Kota, KORAN SUMEDANG
Seleksi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumedang periode 2018 -2023, diwarnai isu tidak sedap dengan munculnya selebaran di grup grup Whatapps, yang menyatakan bahwa ada kongkalikong/Konspirasi pada seleksi tersebut.

Pada selebaran tersebut diungkapkan bahwa ada pertemuan antara  Anggota Tim Seleksi 2 Jawa Barat, Yusfitriadi M.Pd dengan 3 orang peserta seleksi yaitu Sri Diyanto Wijaya, Mamay Siti Maemunah Suhandi dan Nurlaela Fatimah di Hotel Cipaganti Cipanas Garut.

Dikonfirmasi akan adanya selebaran tersebut, salah satu peserta seleksi Sri Diyanto Wijaya mengatakan, kehadirannya di Hotel Sabda Alam Cipanas Garut pada Kamis (23/8), atas undangan Bawaslu Jabar sebagai unsur OMS dalam rangka sosialisasi hasil pengawasan, penindakan pelanggaran dan penyelesaian sengketa pada pemilihan kepala daerah di Jawa Barat Tahun 2018.

"Jadi, kedatangan saya hanya sebatas undangan dari Bawaslu saja, saya bisa membuktikan undanganya ada, starter kit nya juga dapat pada acara tersebut". tuturnya, saat dikonfirmasi Korsum, di Kediamannya, Kamis (30/8).

Lebih lanjut Pria yang lebih akrab di panggil Yanto ini menuturkan, undangan dari Bawaslu dijadwalkan pada jam 13.00, akan tetapi jadwal tersebut molor dan baru dimulai pada pukul 15.00~18.30.

"Selesai acara dilanjutkan makan malam dan saya pulang bersama rombongan kurang lebih pukul 20.30 WIB. Sama sekali tidak ada pertemuan langsung dengan Timsel, apalagi ada perjanjian macam~macam seperti yang diisukan. Demi Allah itu tidak benar, dan saya siap dikonfrontir dengan Timsel yang disebut pada selebaran tersebut," tegasnya.

Yanto menegaskan kembali, bahwa yang ada dalam selebaran itu, sama sekali tidak benar dan fitnah buat dirinya.

"Silahkan, buktikan kalau saya ada pertemuan dengan timsel, tidak tahu kalau orang lain. Dan saya akan melaporkan orang yang pertama menyebarkan selebaran itu, agar nanti diketahui siapa yang membuatnya," tegas Yanto.

Berbeda halnya dengan pengakuan salah satu peserta seleksi lainnya, Asep Anang Supriatna yang mengatakan, klarifikasi dirinya tentang selebaran pertemuan di Garut bukan Jumat tapi Kamis.

"Saya tahu karena pada hari Kamis jam 10 ditelpon diminta hadir, tapi saya menolak karena sedang rapat DKS sampai sore. Sepulang rapat, kira kira magrib saya di telpon lagi bahwa saya tetap harus berangkat ke Garut. Setelah Magrib, saya berangkat dan sampai di Garut pukul 20.15 langsung ke hotel Sabda Alam nonton TV di kamar 819 sampai jam 00.30," tuturnya, saat dikonfirmasi melalui sambungan teleponnya, Kamis (30/8).

Lebih lanjut Asep Anang mengatakan, dirinya dipanggil ke Hotel Cipaganti 2, di kamar bersama Timsel, dirinya dan Nurlaela hanya diperkenalkan bahwa yang direkom Muhammadiyah Sumedang orangnya ini.

"Hanya diperkenalkan. Sementara pertemuan siangnya saya tidak hadir, yang hadir sejak siang adalah Nurlaela, Sri Diyanto dan Mamay. Saya tidak tahu isi pertemuan siang.  Sri dan mamay sudah pulang waktu saya datang ke garut," ucapnya.

Sementara masalah komitmen, lanjutnya lagi,  tidak dibahas dalam pertemuan dengan dirinya, hanya diperkenalkan dan meminta menjaga nama baik Muhammadiyah, lebih ke normatif saja.

"Terus jangan kaitkan dengan parpol PAN, karena 4 nama yang direkom Muhammadiyah tidak ada kaitan sama sekali dengan PAN.
"Selebaran tersebut merupakan manuver seseorang yang dianggap kasar, kotor dan jahat. itu perbuatan pribadi orang bersangkutan, jangan dikaitkan dengan lembaga Muhammadiyah, karena perilaku tersebut menjadi tanggung jawab orang tersebut," pungkasnya.

Sementara dikonfirmasi melalui sambungan teleponnya, akan adanya selebaran tersebut, Wakil Ketua Muhammadiyah Sumedang, Supala yang menurut info ikut hadir di Garut mengaku, dirinya tidak mengetahui mengenai adanya selebaran tersebut, terlebih membawa bawa nama besar Muhammadiyah.

"Saya tidak tau adanya selebaran yang menyebutkan adanya kongkalikong pada seleksi komisioner KPU Sumedang. Dan saya pastikan adalah ulah dari orang-orang yang tidak siap menerima kegagalan dalam seleksi tersebut," tuturnya.

Supala juga mengatakan, jika memang benar selebaran tersebut telah menyudutkan namanya ataupun nama Muhammadiyah, pihaknya akan menuntut balik terhadap orang yang telah menyebarkannya.

Isi selebaran yang diterima redaksi KORAN SUMEDANG mengenai dugaan adanya kongkalikong pada seleksi calon komisioner KPU Sumedang, juga menyebutkan komitmen bahwa Ketiga peserta seleksi tersebut juga bersedia dipotong gaji jika terpilih.**[Tim]
Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar