Gondok, Penyakit Ringan Tapi Sangat Mengganggu


Kota, KORAN SUMEDANG
Kelenjar tiroid atau dalam bahasa umumnya disebut kelenjar gondok merupakan suatu organ yang terletak di dalam leher depan bagian bawah. Kelenjar tiroid adalah kelenjar yang memiliki bentuk menyerupai kupu-kupu dan terdapat pada bagian pangkal leher, tepatnya dibawah jakun. Berat tiroid normalnya sekitar 10 sampai 30 gram dan dapat terlihat apabila ukurannya membesar.
Salah seorang dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Sumedang, dr. Susi Marliana Dewi, Sp.PD mengatakan, tiroid berfungsi untuk menghasilkan hormon tiroid yang bekerja dalam berbagai proses metabolisme tubuh. Diantaranya melakukan kontrol dalam metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein, menaikkan atau menurunkan suhu tubuh, mempercepat atau memperlambat detak jantung, mengontrol kecepatan pergerakan usus dalam proses pencernaan makanan, berpengaruh terhadap kekuatan otot, mengontrol tingkat reproduksi sel, dan membantu mengoptimalkan pertumbuhan otak pada anak.
Menurutnya, penyakit gondok atau basa sundana gondongeun, tidak menimbulkan rasa sakit bagi para penderitanya, tetapi penyakit ini dapat menyebabkan batuk, kesulitan untuk bernafas dan menelan makanan. Kelenjar ini memiliki fungsi penting untuk memroduksi  hormon tiroid yang berperan dalam berbagai proses kimiawi di dalam tubuh.
Pada kondisi normal, kata Susi, kinerja kelenjar tiroid cenderung tidak kita sadari tetapi ketika terjadi pembengkakan, kelenjar tiroid akan membentuk benjolan. Untuk memastikan apakah benjolan atau pembesaran leher tersebut disebabkan karena pembesaran tiroid, biasanya dokter akan meminta pasien untuk menelan air.
“Jika pembesaran tersebut bergerak ke atas saat menelan, berarti karena tiroid, jika tidak ikut bergerak saat menelan kemungkinan besar bukan karena tiroid,” katanya.
Pembesaran kelenjar tiroid disebut struma atau gondok. Struma dapat merata dan simetris, disebut struma difusa, dapat juga berbenjol, disebut struma nodosa. Isi struma bisa padat, cair, atau campuran. Struma tidak selalu disertai dengan gangguan hormon tiroid.
Gangguan fungsi tiroid berhubungan dengan kadar hormon tiroid yang berlebih (hipertiroid), sedangkan hormon yang rendah disebut hipotiroid.
“Kelainan ini dapat diketahui, selain dari gejala klinis, juga dari pemeriksaan kadar hormon tiroid, yaitu tiroksin (T4), triiodotironin (T3) dan TSH,” katanya lagi.
Susi menuturkan, Penyakit hipertiroid dapat diketahui dari gejala yang khas, seperti berdebar-debar, banyak berkeringat, mudah lelah, berat badan turun walaupun dengan nafsu makan yang besar, sering buang air besar, kelemahan otot terutama lengan dan kaki.
Selain itu, ada perubahan emosional, seperti mudah marah, mudah tersinggung, tidak sabar, bila mengambil suatu keputusan tidak pikir panjang, atau mudah cemas. Pada wanita seringkali ada keluhan haid yang tidak teratur. Pada saat pemeriksaan didapatkan adanya struma/gondok, mata membesar dan bengkak pada kelopaknya (tidak selalu), denyut nadi kuat dan cepat, kulit halus, hangat, dan lembab, dan jari2 yang bergetar. 
“Pengobatan hipertiroid dapat dilakukan dengan obat anti tiroid, iodium radioaktif, atau tindakan pembedahan. Penderita hipertiroid juga dianjurkan mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak karena dapat memperlambat penurunan berat badan serta makanan tinggi kalsium,” terangnya.
Adapun hipotiroid, lanjutnya, faktor penyebabnya banyak, diantaranya kekurangan yodium, karena komplikasi operasi tiroid, dan penggunaan obat anti tiroid yang berlebih.
“Gejala hipotiroid ini mudah mengantuk, tidak tahan udara dingin, berat badan naik walaupun makan sedikit, nadi lambat, kulit cenderung kering, dan respon yang lambat. Pengobatannya dengan memberikan tablet hormon tiroid,” tukas Susi.
selain itu, benjolan yang terus membesar hingga mengganggu pernapasan dan menyebabkan penderita sulit menelan, bisa ditangani dengan operasi. Langkah ini akan dilakukan dengan tiroidektomi, yaitu prosedur pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid. Prosedur ini juga disarankan bagi penderita yang diduga memiliki benjolan tiroid yang mengandung sel-sel kanker.
Tiap operasi pasti memiliki risiko, termasuk tiroidektomi. Walau kemungkinannya tergolong kecil, pasien yang menjalani operasi ini berpotensi mengalami komplikasi kerusakan pada saraf dan kelenjar paratiroid.
“Jika seseorang mempunyai keluhan pembesaran atau benjolan di leher bagian depan yang ikut bergerak saat menelan, kemungkinan besar adalah struma/gondok. Dan bila terdapat gejala-gejala hipertiroid atau hipotiroid, segeralah konsultasikan ke dokter untuk menentukan pilihan pengobatan yang tepat,” pungkas dr. Susi.**[Hendra]

Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar