Dirasa Sulit Hidup di Translok


Situraja, Koran Sumedang
Warga di perumahan Transmigrasi Lokal (Tanslok) Cijengjing Desa Linggajaya Kecamatan Cisitu mengaku sengsara dalam menjalani hidup sehari-hari. Di daerah Translok, katanya, sulit mencari kerja untuk hidup, jangankan beras menanamam ubi kayu pun sulit karena tak memiliki lahan.
“Ada sekitar 200 KK warga penghuni Translok mencakup hampir 2 Rw, notabene sebagai warga pendatang. Hidup mereka vakum karena sulit mencari pekerjaan untuk biaya hidup sehari-hari. Tak punya lahan pertanian, hanya rumah kecil dan pekarangan,” kata Jajang seorang warga Translok kepada koran ini, Senin (3/9).
Bahwa lanjutnya, warga  Translok  hidupnya lebih sengsara ketimbang warga OTD yang berada dipesisir waduk Jatigede. Di wilayah Translok tidak ada lahan  yang bisa digarap karena sekelilingnya tanah milik desa yang sebelumnya sudah digarap warga setempat. Menjadi buruh tani pun tak bisa karena tak ada yang memperkerjakan karena daerah itu kering dan gersang.
“Namun hingga saat ini ada sebagian warga yang masih bisa bertahan karena ada seorang warga Translok yang membuka lapangan kerja Konspeksi, meskipun tidak semua warga bisa bekerja. Warga itu membuka lapangan kerja ditengah murat-maritnya kehidupan warga Translok,” sebutnya.
Endang pengusaha konspeksi pakaian jadi yang juga warga Translok saat ditemui koran ini mengaku prihatin dengan kehidupan warga penghuni Translok. Karena usahanya sudah punya marketing kata dia, maka dengan usahanya ini ingin membantu warga Translok yang kehidupannya lebih sengsara dari OTD Jatigede.
“Kami ini hanya home industry sekedar membantu kehidupan warga  karena usaha ini sudah punya pasar. Order kami banyak, tapi usaha ini masih terbentur dengan  minimnya modal untuk mengembangkan diantaranya upah buruh kerja harian dan penambahan melaratan mesin jahit,” tutur Endang.
Terutama modal upah kerja yang harus instan tak boleh diutang, lanjutnya, masuk kerja pagi, pulangnya sore dibayar untuk beli beras. Disamping itu masih terbatasnya mesin jahit sehingga pekerja juga terbatas belum bisa memperkerjakan semua warga. Usaha ini perlu uluran bantuan pemerintah terutama permodalan.  
Kepala Dinas UMKM Perindag, Dadang Sukma, kepada koran ini di ruang kerjanya, Selasa (4/9), mengatakan, kelompok usaha kecil bisa mengajukan permodalan melalui Disperindag untuk direkomdasikan bentuan modal dari Bank yang saat ini sudah berjalan yakni program KUR (Kridit Usaha Rakyat).
“Ada yang paling ringan tapi batasan permodalan kecil sekitar Rp 200 juta yakni Peruri atau Askrindo yang bunganya hanya sekitar 3 persen setahun. Maka harus bentuk kelompok, tapi jaminan cukup satu untuk modal kelompok yang nantinya akan diterima secara masing-masing,” katanya.
Disamping itu, lanjutnya, Disperindag juga akan lakukan pelatihan tentang tata cara kegiatan usaha dengan bantuan BLK. Termasuk bantuan ijin usaha dan tata cara pemasaran hasil usaha atau marketing dengan sistem online.**[yf saefudin]

Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar