Petani Ikan Jaring Tancap’Gulung Tikar’


Darmaraja, KORAN SUMEDANG
Surutnya air Waduk Jatigede membawa dampak luar bisa bagi kehidupan warga dipesisir waduk yang notabene Orang Terkena Dampak (OTD) Jatigede. Dengan adanya Jatigede, warga OTD beralih profesi menjadi petani ikan jaring apung hingga dapat menghasilan menunjang ekonomi keluarga.
Namun surutnya air waduk, petani ikan benar-benar gulung tikar karena vakum tak bisa melakukan aktivitas usahanya. Sementara Pemda Sumedang seolah tak pernah memikirkan hidup OTD jangka pendek, apalagi jangka panjang.
Agar bisa bertahan hidup kata Momo, kini warga OTD petani ikan kembali beralih profesi menjadi pemulung barang bekas genangan yang bermunculan karena airnya menyusut. Kemarau semakin parah,  air waduk hanya berada disatu titik dengan kedalaman hanya 1 meter. Warga OTD semakin resah karena kemarau tampaknya makin panjang.
Momo warga OTD yang juga Ketua kelompok tani ikan jaring tancap Desa Sukamenak Kecamatan Darmaraja menyebut, ada 5 kelompok yang beranggotakan hampir sekitar 100 anggota, kini terpaksa beralih profesi menjadi pemulung.
“Beberapa bulan lalu, petani ikan masih bisa beraktivitas usaha. Namun saat ini mereka  nganggur total tinggalkan jaring. Dari pada mati kelaparan, lebih baik jadi pemulung puing-puing sisa bangunan seperti batu dan bata yang waktu penggenangan tidak sempat dibongkar pemiliknya,” ujar Momo, di kediamannya, Senin (3/9).
 Sisa-sisa bangunan itu bisa dijual lumayan untuk beli beras lanjutnya. Sebab dengan surutnya waduk, sisa bangunan muncul kembali menjadi lahan usaha OTD. Namun mau makan apa jika kemarau  masih panjang dan tak ada lagi yang bisa dijual.  
“Kemarau sudah tiga bulan lebih, Jatigede surut hingga 500 meter lebih dari pesisir pantai. Kemarau tahun ini dianggap yang paling parah dibanding dua tahun kebelakang hingga  berdampak fatal kepada warga  OTD yang hidupnya dibantaran pantai berprofesi  usaha jaring tancap,” tuturnya.
Disebutkan, OTD di bantaran waduk  tak hanya usaha ikan jaring tancap, namun ada juga usaha tempat pemancingan. Disamping ada usaha sewa perahu, namun usaha OTD itu bangkrut karena aktivitasnya berhenti dan tak bisa mempertahankan dengan kondisi waduk menyempit.
“Punya harapan kepada bupati baru, bisa turunkan bantuan untuk hidup OTD jangka panjang dan jangka pendek sehingga bisa hidup secara layak.  OTD tidak berharap hidup selama bergantung bantuan pemerintah, tapi mencari solusi dari kesenjangan ekonomi yang saat melanda OTD,” keluhnya.**[yf saefudin]

Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar