Keuntungan Tani Kedelai Rendah


Kota, KORAN SUMEDANG
Kabupaten Sumedang dimata daerah lain, populer akan sentra  tahu-nya yaitu makanan khas Sumedang. Namun kepopuleran itu tak serta merta  menjadi kebanggaan malah justru memprihatinkan karena kacang kedelai bahan baku tahu itu bergantung kepada imfor negara lain.

Sementara, petani kedelai lokal sulit mengembangkan usahanya karena segi keuntungan jual hasil panen dinilai rendah dibanding  usaha tapi padi atau jagung. Alhasil, produksi kedalai lokal masih jauh untuk memenuhi kebutuhan Sumedang akan kedelai.   

Seperti diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Yosep Suhayat, bahwa program budi daya Kedelai tahun ini awalnya ditarget sekitar 10 ribu hektar luas lahan. Namun akibat anggaran berkurang maka target itu dikurangi menjadi 700 hektar lahan.

“Ironis, Sumedang notabene terkenal akan tahunya, namun bahan baku kacang kedelai harus imfor dari negara lain sementara untuk memenuhi kebutuhan kedelai lokal perlu waktu dan proses panjang,” ujar dia di ruang kerjanya, Senin (1/10).

Diakui, usaha tani kedelai kurang menguntungkan jika dibanding dengan usaha taman Jagung atau padi.  Jenis kedelai itu tidak semua farietas bisa tumbuh di wilayah Sumedang, hanya bisa farietas jenis Willis dan Anjasmoro yang saat ini sangat terbatas.

Memang hemat air dalam budidaya kedelai sebut Yosep, namun dalam proses panca panen cukup sulit yang ujung-ujungnya harga jual berdasarkan hasil analisa usaha tani, keuntungannya rendah.

Hasil produksi kedelai lokal kabupaten Sumedang meski tanam di tahan 10.000 hentar, masih jauh untuk menutupi kebutuhan Sumedang. “Untuk Sumedang memang  ironis, dahar tempe tahu unggal poe  namun  taman kedelai di Sumedang kurang maksimal,” ujarnya.

Diakui, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dalam melaksanakan program budidaya kedelai selalui dihadapkan kepada petani yang kurang motivasi karena kurang dalam segi menguntungkan hasil panen.

Seperti dilansir koran ini diedisi sebelumnya, harga Dolar naik berimbas pada harga kacang Kedelai naik tak terkendali. Hal itu membuat para pengusaha pabrik tahu semakin resah akibat ketergantungan pada bahan baku kacang Kedelai impor. Menyikapi phenomena itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus mencari cara diantaranya budi daya kacang Kedelai.

Bahkan sejak Agustus lalu, UPT Pertanian dan Ketahanan Pangan wilayah Tangjungkerta telah menargetkan sedikitnya 23 hektar lahan budidaya kacang kedelai pada Kelompok Tani Sarimukti yang menanam Kedelai secara serentak.

Seperti dikatakan Kepala Unit Pertanian wilayah Tangjungkerta Ir. Sunsun Gartini di lokasi kegiatan Senin (17/9) menyebutkan, hampir seluruh wilayah Tanjungkerta memiliki kultur tanah cukup subur apapun jenis tanamannya akan mudah tumbuh, meskipun  musim kemarau cukup panjang.**[yf saefudin]

Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar