Kota, Korsum
Bagi anak dari pasangan suami istri yang menikah secara agama atau nikah siri yang kelahirannya didaftarkan ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcasip) Kabupaten Sumedang, jika tidak mau mendapatkan ASI (Anak Seorang Ibu), maka suami istri tersebut harus melakukan isbat nikah terlebih dahulu di Pengadilan Agama.
Demikian dikatakan Kabid Pencatatan Sipil pada Disdukcapil, H. Jajang Sudayat, untuk mendapatkan Akte Kelahiran bagi anaknya, salah satu syaratnya harus memiliki buku nikah yang dikeluarkan oleh KUA atau surat penetapan pernikahan dari Pengadilan Agama.
Kalau tidak ada surat resmi pernikahan yang diatur oleh undang-undang, kami tidak bisa mengeluarkan Akte Kelahiran untuk anak hasil pernikahan yang tidak dicatatkan sesuai aturan yang berlaku,” kata Jajang, Rabu (31/1) di kantornya.
Meski Akte Kelahiran dan ASI memiliki fungsi dan legalitas yang sama, ungkap Jajang, tapi pihaknya selalu menyarankan kepada masyarakat yang akan membuat akta kelahiran namun tak memiliki surat nikah untuk menempuh jalur isbat terlebih dahulu di Pengadilan Agama, terutama kepada warga yang akan membuat akta anak usia 0 sampai 18 tahun.
Menurutnya, langkah ini dilakukan agar nama dari bapak anak tersebut bisa dicantumkan. Sebab, surat nikah menjadi syarat dalam pembuatan akta kelahiran. Karena, kalau tak ada surat nikah ataupun surat ketetapan isbat, maka dalam akta hanya ditulis anak seorang ibu (ASI).
 “Yang membedakannya, kalau dalam Akte Kelahiran nama kedua orangtuanya dicantumkan, sementara dalam ASI hanya nama Ibu saja yang dicantumkan dan nama ayahnya tidak,” ujarnya.
Jajang mengatakan, saat ini Disddukcapil tengah konsen melakukan pelayanan pembuatan akta khususnya usia 0-18 tahun. Hingga akhir tahun 2017 sudah sekitar 72% sasaran atau sekitar 337.039 usia 0-18 tahun yang memiliki akta. Sisanya sebanyak 94.968 anak atau 28% belum memiliki akta.
Sementara itu, lanjut Jajang, untuk bulan Januarii 2018 ini pihaknya juga telah mencetak 1.346 akta kelahiran baru. Untuk mengejar target 100 persen, katanya, kini berbagai upaya dilakukan pihak Disdukcapil, diantaranya bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, serta melakukan jemput bola ke setiap kecamatan, termasuk juga ke rumah sakit, bidan dan tempat bersalin lainnya.
Untuk tahun ini Dinas Kependudukan Dan Casip harus bisa merealisasikan 92 ribu akta kelahiran.
“Tentu untuk merealisasikan RPJMD tersebut reletif sangat berat, karena tidak didukung anggaran yang memdai terutama untuk melaksanakan jemput bola," katanya.
Pelayanan jemput bola akan dilaksanakan secara maraton mulai dari desa/kelurahan dan kecamatan serta pelaksanaannya akan dimulai setelah anggaran turun.

“Sistem jemput bola ini harus dilaksanakan untuk mendongkrak beban target yang diberikan,” pungkasnya.**[Hendra]