Pedagang Kaki Lima, Antara Penataan Kota dan Perannya Dalam Perekonomian Sumedang


Oleh : Iwan Setiawan, SE (BPS Kabupaten Sumedang)

Sumedang berbenah. Mungkin itu kata yang bisa mewakili kondisi sumedang saat ini di bawah kepemimpinan Bapak Bupati H. DonI Ahmad Munir beserta wakilnya Bapak Erwan Setiawan, SE. Gebrakan yang paling nyata dirasakan adalah dengan  penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar pasar Sumedang dan Taman Telor sehingga kelengangan jalan di sekitar pasar Sumedang terasa sekali bedanya dengan keadaan sebelumnya. Tidak ada lagi lapak-lapak pedagang yang berjejer di kiri kanan jalan menuju pasar yang membuat jalan yang memang kecil jadi semakin terasa sempit dan tentu saja membuat lalu lintas selalu tersendat. Dan kini kesemrawutan itu telah berganti dengan kelengangan. Sebuah upaya yang patut diacungi jempol.

Memang masalah pedagang kaki lima ini selalu menjadi masalah yang dihadapi di tiap kota dalam upaya penataan kota karena aktifitas utama perdagangan selalu terkonsentrasi di pusat-pusat kota yang notabene menjadi pusat aktifitas masyarakat. Banyaknya pedagang kaki lima ini bahkan bisa menjadi indikator ramainya suatu kota dan tentu akan menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan penataan kota. Di satu sisi keberadaan PKL ini menjadi salah satu masalah dalam melakukan penataan kota, tetapi di lain pihak PKL ini ternyata berperan dalam menggerakkan roda perekonomian.

Data hasil survei angkatan kerja nasional (Sakernas) menunjukkan bahwa sektor perdagangan ini menjadi tumpuan utama lapangan kerja masyarakat Sumedang. Data tahun 2017 tercatat dari penduduk yang bekerja, sekitar 26,2 persennya berusaha di sektor perdagangan. Kemudian yang berusaha di sektor pertanian sekitar 23,68 persen dan sekitar 19,13 persen berusaha di sektor industri. Angka-angka ini menunjukkan bahwa sektor perdagangan masih merupakan lapangan usaha favorit untuk menjadi sumber mata pencaharian. Dan salah satu pelaku usaha di sektor perdagangan ini adalah para pedagang kaki lima.

Lalu bagaimana peran sektor perdagangan ini dalam perekonomian Sumedang? Untuk melihat peranannya dapat dilihat dari data Produk Domestik Regional Bruto atau yang lebih dikenal dengan istilah PDRB. PDRB ini secara gampanganya diartikan sebagai nilai tambah yang terbentuk dari seluruh aktifitas ekonomi yang ada di suatu wilayah pada suatu periode waktu tertentu, biasanya 1 tahun. Adapun yang dimaksud dengan nilai tambah adalah nilai yang didapat dari pengurangan nilai produksi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksinya. Untuk sektor perdagangan nilai tambahnya didapat dari nilai penjualan barang dikurangi dengan nilai pembelian barang tersebut dan biaya-biaya lainnya.

Dengan menggunakan data PDRB tersebut pada tahun 2017 nilai tambah yang tercipta dari sektor perdagangan ini mencapai angka Rp 4.713.992.100.000,- atau Rp 4,7 trilyun. Tentu ini sebuah angka yang fantastis. Tetapi dari sisi nilai tambah ini, sektor perdagangan tersebut tidak menjadi sektor yang paling dominan. Sektor yang paling tinggi nilai tambahnya dan menduduki ranking pertama adalah sektor pertanian dengan nilai tambah yang terbentuk mencapai Rp 6.025.408,100.000,- atau 6,02 trilyun dan peringkat ke dua ditempati oleh sektor industri dengan nilai tambah sebesar Rp 5.442.265.300.000,- atau Rp 5,44 trilyun. Dan secara total nilai tambah yang terbentuk dari seluruh aktifitas ekonomi di Kabupaten Sumedang di tahun 2017 angkanya mencapai Rp 29.638.762.800.000,- atau sebesar Rp 29,63 trilyun.

Lalu bagaimana dengan pertumbuhannya. Yang dimaksud dengan pertumbuhan atau biasa dikenal dengan laju pertumbuhan ekonomi adalah perbandingan nilai tambah di suatu tahun dengan nilai tambah di tahun sebelumnya. Untuk menghitung pertumbuhan ini biasanya digunakan nilai tambah dengan harga yang dikonstankan dengan harga di suatu tahun tertentu. Saat ini harga yang dijadikan patokan sebagai tahun dasarnya adalah tahun 2010. Jadi semua nilai tambah yang dihasilkan di tahun 2017 harga yang digunakan sebagai pengali bukan harga di tahun 2017 tetapi harga di tahun 2010. Misalnya sebuah jam tangan yang dijual oleh pedagang harga yang digunakan sebagai pengalinya adalah harga jam tangan di tahun 2010. Hal ini dimaksudkan agar didapat angka pertumbuhan yang riil. Peningkatan nilai tambah yang terjadi betul-betul karena adanya peningkatan volume barang yang dijual, bukan karena adanya pengaruh kenaikan harga.

Dan dengan menggunakan harga konstan, nilai tambah sektor perdagangan di tahun 2017 adalah sebesar Rp 3.739.524.000.000,-. Tentu saja dengan harga konstan ini nilainya lebih rendah dari yang disampaikan di atas yaitu yang sebesar Rp 4.713.992.100.000,- karena perbedaan harga yang digunakan. Dan dengan harga konstan tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai tambah di tahun 2016 dengan angka sebesar 3.563.420.000.000,- maka didapat angka pertumbuhan sebesar 4,94 persen. Artinya sektor perdagangan ini di tahun 2017 nilai tambahnya tumbuh sebesar 4,94 persen dari tahun sebelumnya.

Sekali lagi para PKL ini adalah bagian dari penyumbang nilai tambah dalam PDRB di Kabupaten Sumedang. Karena itu meskipun kehadiran para PKL ini menjadi salah satu kendala dalam penataan kota namun peran mereka sangat penting dalam mendongkrak perekonomian Sumedang. Berjalannya aktifitas perdagangan setiap waktu akan menciptakan lebih banyak pendapatan mereka dan secara global akan menciptakan nilai tambah ekonomi Kabupaten Sumedang yang lebih tinggi. Selain itu sektor perdagangan ini merupakan salah satu solusi dalam mengatasi masalah pengangguran dimana data Sakernas mencatat saat ini masih ada sekitar 7,15 persen penduduk Sumedang yang berstatus sebagai pengangguran.

Kebijakan relokasi  para PKL yang dilakukan oleh Pemkab Sumedang saat ini tentu harus didukung oleh semua pihak demi tertibnya dan indahnya kota Sumedang yang kita cintai. Di lain pihak para PKL ini dengan menempati lokasi yang telah ditentukan tetap bisa menjalankan aktifitasnya tanpa menciptakan kesemrawutan dan tanpa kekhawatiran kehilangan pelanggan. Semoga ke depan Sumedang menjadi lebih indah dan lebih nyaman lagi dan perekonomian Sumedang juga semakin meningkat.

Share on Google Plus

About Redaksi Korsum

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment