Buahdua, KORAN SUMEDANG
Masyarakat Desa Citaleus dan Desa Gendereh Kecamatan Buahdua pada tahun 2006 lalu telah menerima Sertifikat (Redis) tanah blok sentig sebanyak 100 orang untuk tidak dijual.

Menurut Arli, Kepala Desa Citaleus, Senin (29/4), di kantor desa mengatakan, pada tahun 2006 lalu warga desa Citaleus dan desa Gendereh Kecamatan Buahdua menerima sertifikat (Redis) tanah blok Sentig untuk digarap bukan untuk diperjualbelikan.

Kemudian, kata Arli, datang insvestor dari PT. Banyuresmi Indramayu mengontrak di Desa Citaleus membutuhkan tanah seluas 120 hektar untuk galian pasir dan berhubungan dengan mediator ketika Kepala desanya sebelum dirinya.

Mediator/Calo membujuk warga untuk menjual tanahnya blok Sentig yang memiliki Sertifikat Redis untuk dijual dengan harga Rp 100 ribu perbata dengan alasan untuk penggantian tanah Perhutani, tanah blok sentig yang telah dijual 23 hektar untuk tahap I. perlu 40 hektar jadi kurang 17 hektar lagi dan tahap II perlu 80 hektar dengan harga Rp 100 perbata, dan sebagian warga menolak karena terlalu murah.

Menurut sumber yang tidak mau menyebut identitasnya, ulah mediator/Calo membujuk warga agar tanahnya dijual dan sertifikat dikumpulkan oleh mediator dengan harga Rp 100 ribu perbata sebagian warga menolak sebab terlalu murah dan terjadi sertifikat hilang, maka warga melapor ke pemerintah desa.

“Selanjutnya Babinsa Citaleus Sertu Asep Suryana dan Serda Yaya Babinsa Gendereh berhasil mengumpulkan sertifikat sebanyak 20 buah hasil penelusuran ke Bandung,” katanya.

Sertifikat yang terkumpul sebanyak 20 buah kini telah diserahkan ke pemilik yang disaksikan oleh Arli Kepala Desa Citaleus, Kapolsek Buahdua dan dari Tim PT. Banyuresmi Indramayu.

Kepala Desa Citaleus menghimbau, agar masyarakat jangan tergiur untuk menjual tanah melalui calo, karena pemerintah memberikan kepemilikan tanah untuk kehidupan bukan untuk dijual.**[Indang]