Kota, KORAN SUMEDANG
Salah seorang penyiar radio ternama di Bandung, berinisial DP (31) diciduk oleh Satreskrim Polres Sumedang, karena telah melakukan ujaran kebencian di salah satu Media Sosial.

Menurut Kapolres Sumedang AKBP Hartoyo S.I.K mengatakan, penangkapan tersangka ini karena yang bersangkutan memosting sesuatu yang tidak benar atau ujaran kebencian.

"Jadi DP memosting sesuatu yang tidak benar ditambahkan lagi kata kata yang tidak benar. Dimana postingannya tersebut bisa berakibat merusak persatuan dan kesatuan dan juga bisa menimbulkan kebencian kebencian baru bagi orang yang tidak tahu setelah membaca postingannya," terang Kapolres pada sejumlah wartawan di Mapolres Sumedang, Kamis (23/5).

Lebih lanjut Kapolres mengatakan,
DP merupakan salah satu karyawan di salah satu radio swasta ternama di Kota Bandung ini, diciduk karena mengupload kata-kata yang dianggap tidak benar atau hoaks terkait kejadian kerusuhan 21 Mei di Jakarta.

“Kejadian kerusuhan kemarin antara Polri dengan perusuh, dimanfaatkan oleh tersangka untuk memposting sesuatu yang tidak benar,” bebernya

Adapun tiga postingan yang DP dengan nama akun Dian Pardiana menjadi dasar untuk penangkapan yaitu :

“Edan kieu aparat keparat teh, kacida nepika make peluru bener. Umat Islam moal mungkin nyieun rusuh mun teu dibalakan koplok, Semoga Alloh memusnahkan anda yang menggunakan kekuasaan untuk menindas”.

 “Kerusuhan di Petamburan geus teu lucu settingana. Era atuh uy anda penguasa, rakyat teu barodo jaman ayeuna mah”.

“Sesuatu yang sudah tidak benar itu ditambahin oleh yang tidak benar lagi. Oleh karena itu kemarin saya langsung perintahkan untuk menangkap tersangka ini.”

“Karena ini berpotensi memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Juga akan menimbulkan kebencian-kebencian baru bagi orang yang tidak tahu,” ungkapnya

Sementara alat bukti yang disitu yaitu satu unit handphone android dan screenshoot beberapa postingan ujaran kebencian milik tersangka, DP dikenakan Pasal 45 Undang-undang ITE junto pasal 207 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara.

“Sebetulnya DP sudah menghapus postingannya tersebut, akan tetapi jejak digitalnya bisa kita dapatkan. Dan DP juga pendidikan dan profesinya bisa dikatakan mumpuni. Fanatisme itu boleh, tapi kalau sempit dan diarahkan ke hal yang salah ini yang jadi bahaya. Dan kejahatan seperti ini sebetulnya yang paling berbahaya karena bisa mengundang emosi orang yang tidak tahu kebenarannya” tandasnya ** [Acep Shandy].