Viral Tutut Berformalin Penjual Meradang Omset Turun Drastis

Kota, KORAN SUMEDANG
Pedagang tutut (siput) yang biasa berjualan di sekitar Taman Endog Sumedang, membantah menggunakan zat berbahaya jenis Formalin dan juga mengaku tidak merasa diambil sampel oleh BPOM Bandung, pada hari Senin (13/5).

Hal tersebut diungkapkan oleh penjual tutut yang biasa mangkal di Taman Telor, Evi Suryani bahwa, pada Senin itu, tidak ada pihak dari BPOM Bandung yang datang mengambil sampel untuk diperiksa.

"Saya tidak merasa diambil sampel oleh BPOM, termasuk ke pegawai saya, katanya juga tidak ada," ujarnya saat dikonfirmasi Korsum di kediamannya (15/5).

Evi mengaku, selama 8 tahun berjualan tutut di Sumedang tidak pernah berlaku curang, dengan sengaja menggunakan zat formalin.

"Selama berjualan tutut, saya tidak pernah menggunakan bahan formalin. Dan itu terbukti, semua pelanggan saya tidak pernah ada yang komplen atau ngeluh apa pun," tuturnya.

Evi mengaku, tutut yang biasa dijual  setiap minggu dia dipasok dari peternak tutut dari Waduk Cirata, Saguling, Kabupaten Bandung Barat.

"Dan tutut yang dikirim juga, diterima dalam kondisi hidup. Jadi tidak mungkin tutut tersebut memakai formalin," akunya

Evi juga menambahkan, dengan adanya pemberitaan di media online, cetak dan televisi, pihaknya merasa dirugikan. Karena sejak viral di media, termasuk ramai dibahas di media sosial, omset tututnya merosot tajam.

"Biasanya kalau berjualan dari pukul 11.00 sampai pukul 23.00 itu omzet bisa mencapai Rp 2 juta. Ini sejak viral mengandung Formalin. Hari ini, saya jualan hanya laku Rp 100.000," keluhnya

Seperti diberitakan Korsum edisi sebelumnya bahwa, BPOM Bandung menemukan Kuliner takji jenis tutut yang teridentifikasi awal
positif mengandung zat berbahaya jenis formalin saat melakukan Sidak Kuliner takjil yang biasa mangkal di Taman Endog. ** [Acep Shandy].

Posting Komentar

0 Komentar