Tak Kebagian Uang Kerohiman Bendung Rengrang Suhadi dan Aris meradang

Suhadi dan Aris (OTD Bendung Rengrang)

Paseh, KORAN SUMEDANG
Dalam beberapa tahun ini, tujuh keluarga yang tinggal di Dusun Nyalindung Desa Padanaan Kecamatan Paseh terus memperjuangkan nasibnya dalam pembebasan proyek Bendung Rengrang. Karena uang kerohiman yang asal mula 70 juta untuk dibagikan kepada tujuh keluarga diantaranya Suhadi alias Ado, Jaja, Indra, Irip, Didin dan Irim dan Bu Aris telah ditolak dan memilih bertahan di kediamannya masing-masing.

Selanjutnya, Pada jelang hari raya Idul Fitri kemarin, rupanya momen tersebut dimanfaatkan oleh Pimpro Bendung Rengrang dan akhirnya lima keluarga menandatangani untuk hengkang dan diberikan uang kerohiman sebesar Rp 104 juta dari proyek Bendung Rengrang untuk dibagikan sesuai dengan ukuran rumahnya, yakni,  diantaranya Jaja mendapatkan Rp 22 juta, Irim mendapatkan Rp 10 juta, Indra dapat Rp 10 juta,  Irip dapat Rp 40 juta dan Didin dapat Rp 22 juta.

Dikonfirmasi Koran Sumedang Kamis (13/6), Suhadi alias Ado menjelaskan bahwa dirinya sebagai orang yang terkena juga dampak pembebasan proyek bendung Rengrang merasa heran bersama tetangganya bu Aris, pasalnya tujuh keluarga tersebut yang terkena pembebasan proyek bendung Rengrang termasuk dirinya dan bu Aris setelah beberapa tahun terus musyawarah dengan tim proyek bendung rengrang bersama-sama desa dan menentukan harga hingga berubah kembali, dan tujuh keluarga itu pun terus berjuang untuk bertahan hingga tak terasa sudah kurang lebih empat tahun sampai sekarang.

“Kami, tujuh keluarga ini mendiami tanah ini sudah puluhan tahun, ada yang mulai tinggal dari tahun 70-an, tahun 80-an dan kalau saya mulai tinggal disini tahun 90-an di atas tanah milik PU Provinsi Jawa Barat. Kami juga sempat dipungut pajak dan ketika presiden bu Megawati pungutan pajak pun tidak ada sampai sekarang, artinya kami dulunya mendapatkan ijin untuk tinggal di tanah ini,ungkap Suhadi alias Ado saat di kediamannya.

Mulai terusik ketenangan, kata Suhadi, ketika ada proyek pemerintah untuk membangun bendung Rengrang, hanya karena tinggal di atas tanah milik pemerintah dalam hal ini PU Provinsi Jawa Barat, lalu cara menawar untuk hengkang di tanah yang menurutnya sungguh sangat tidak berprikemanusian, sangat merendahkan.

Bayangkeun wae maeunya duit tujuh puluh juta kudu dibagi tujuh keluarga?, tiawal kuring diajak terus bermusyawarah da kuring ge cenah ka asup kudu indit, artina eta tanah nu dicicingan ku kuring bakal dipake. Pas kamari rek lebaran, lima kulawarga, kadatangan pak Kuwu ceunah kudu datang ka kantor pemborongna, akhirna lima kulawarga eta menang, pas kuring nanyakeun nu kuringmah cenah ayeuna teu ka asupkeun da salah ukur, kumaha ieu teh?? Asa heureuy pisan pagawean teh, keur naon atuh musyawarah terus terusan ari ujungna kieu mah, ujarnya dalam logat Sundanya.
Dikatakan Suhadi, dirinya bakal terus bertahan di kediamannya sebelum ada titik terang, meski dirinya pernah diajak musyawarah untuk kerohiman tersebut, namun dirinya menolak dengan alasan bahwa rumah dirinya permanen selain itu ketika dapat kerohiman hanya puluhan juta, nasib keluarganya mau kemana?.

“Sekarang saja lima keluarga yang sudah mendaptkan kerohiman justru bingung, uang hanya puluhan juta tidak cukup kemana mana, Saya sudah mengadu kemana mana termasuk ke dewan untuk meminta bantuan dan meminta ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Sumedang bahwa kami sampai sekarang masih manusia bukan hewan. Yang saya bingung katanya bahwa ada kabar uang kerohiman tersebut yang di bagikan ke lima keluarga itu bukan Rp 104 juta melainkan Rp 120 juta, lalu kemana sisanya?, tanyanya.

Dikonfirmasi Koran Sumedang, Kamis (13/6), Kepala Desa Padanaan menurut staf desa sedang tidak ada di kantor, sama halnya dengan kantor Proyek Bendung Rengrang pun ketika dipertanyakan bahwa pimpinannya sedang tidak ada dan Humasnya pun sedang dalam rangka mudik ke Makasar. Sampai berita ini diturunkan belum ada konfirmasi dari kantor proyek Bendung Rengrang meski Koran Sumedang sudah memberikan nomor telepon.**[Dady]

Share on Google Plus

About Koran Sumedang

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment