Protes Keberadaan Karaoke Satpol PP Sumedang, Mediasi PIC dan Owner Karaoke Family

Kota, KORAN SUMEDANG
Buntut adanya protes dari Persaudaraan Islam Cimanggung (PIC) yang mempersoalkan Karaoke Family karena diduga menyalahi aturan. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumedang, melakukan mediasi antar kedua belah pihak, di ruang rapat Satpol PP, Rabu (24/7).

Menurut Plt Kasatpol PP Sumedang Deny Hanafiah mengatakan, saat ini pihaknya sudah melakukan mediasi atas laporan dari sejumlah tokoh agama asal Cimanggung yang tergabung dalam PIC dengan Owner Karaoke Family.

"Hasilnya kedua belah pihak menyepakati lima point kesepakatan dalam jangka waktu 14 hari kedepan," ujarnya saat dikonfirmasi sejumlah wartawan usai melakukan Mediasi.

Lebih lanjut Deny menegaskan, atas hasil kesepakatan dalam mediasi tersebut, pihaknya akan terus memantau dalam kurun waktu selama 14 hari kedepan.

“Kalau dilihat protes yang dilakukan PIC karena menilai pengunjung yang diduga sudah menyalahi aturan serta diduga adanya peredaran minuman keras dan adanya PL (Pemandu lagu) yang berpakaian seronok. Tadi saya tekankan kepada manajemen untuk menyeleksi siapapun pengunjungnya yang benar-benar sehat. Jangan sampai nantinya ada keributan, sehingga mengundang reaksi kembali," tandasnya

Sementara itu ketua PIC Tarmidzi Yusuf mengatakan, kesepakatan tersebut sudah bulat walaupun pihaknya mengetahui jika manajemen karaoke tidak pernah menyediakan Pemandu Lagu (PL) ataupun minuman keras.

"Lokasinya tidak jauh dari posko kami dan juga tidak jauh dari Mesjid Al Asstro. Dan kami bisa melihat ada yang wanita yang berpakaian seksi sampai kelihatan paha, selain itu kami sering lihat orang mabuk di sana. Memang betul pihak karaoke tidak menyediakan PL atau miras, tetapi PL itu yang datang membuat kami terusik," ucapnya

Tarmidzi mengatakan, adanya audensi ini, merupakan tindak lanjut dari hasil investigasi para tokoh agama di bulan Januari lalu. Karena lokasi karaoke family yang letaknya sekitar 200 meter dari Masjid Al Asstro Duta Family dinilai mengurangi keberkahan.

“Kami berikan waktu 14 hari agar tidak ada pelanggaran miras dan PL sesuai dengan kesepakatan. Jika mereka melanggar, kami laporkan ke bupati. Atau kami akan tutup sendiri jika mereka melanggar dalam kurun waktu 14 hari tersebut," tegasnya

Di tempat yang sama, Owner Karaoke Family H Yamin Supritana mengatakan, pihaknya tentunya akan menerima hasil kesepakatan tersebut, dan tanpa kesepakatan tersebut juga pihaknya sebenarnya sudah menerapkan syariat islam di tempat karaoke family.

"Sebenarnya kita sudah menerapkan syariat islam di tempat karaoke family, Seperti setiap datangnya waktu magrib kita mengadakan sholat berjamaah di Lobi, yang jamaahnya seluruh pegawai dan juga diikuti oleh para tamu. Selain itu juga semua sistem kita matikan jika datang waktu sholat," tuturnya

Dan bukan hanya itu, lanjut H Yamin, pihaknya juga menyediakan sarung bagi para tamu wanita yang datang dengan menggunakan pakaian yang seksi..

"Itu sudah aturan, jadi setiap tamu yang datang dengan menggunakan pakaian seksi kami sediakan sarung untuk menutup auratnya," ucapnya

H. Yamin juga menambahkan, sejak karaoke family ini dibuka pihaknya tidak pernah menyediakan minuman keras apalagi PL.

"Bahkan para pekerja wanita kami juga intruksikan untuk memakai hijab saat bekerja. Akan tetapi dengan adanya protes seperti ini kami juga tentunya akan lebih selektif dalam menerima tamu," tandasnya ** [Acep Shandy].
Share on Google Plus

About Acep Sandi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment