SUMUT, KORSUM.NET - Beredar informasi adanya beberapa titik tanah Kas Desa Mulyasari Kecamatan Sumedang Utara yang belum dibayar pemerintah, namun tanah desa itu sudah digaruk proyek jalan Tol Cisumdawu.

Hal itu membuat sejumlah perangkat Desa Mulyasari didampingi Babikantibmas langsung terjun ke lokasi proyek Tol untuk lakukan pengecekan kebenaran atas informasi itu, Kamis (22/8).

Benar saja, sebagian tanah desa yang masuk wilayah pekerjaan PT. Wijaya Karya (Wika) kondisinya sudah digaruk alat berat. Sedangkan PT. Wika merupakan pihak pelaksana (Men-Kont) pembangunan proyek jalan Tol Cisumdawu.

Perangkat desa menyayangkan sikap PT. Wika sudah mengarap tanah desa yang belum dibayar. Bahkan aksinya itu tanpa ada pemberitahuan secara resmi kepada pemerintah desa sebelumnya.

Tol Cisumdawu merupakan proyek pemerintah, namun tidak serta merta pihak BUMN (PT. Wika) lakukan aksi main garuk tanah desa tanpa melalui prosedur yang benar.

"Memang ada pemberitahuan PT.Wika, tapi tidak secara resmi karena via telpon. Selanjutnya tidak tahu hingga tanah ini sudah digaruk, " sebut Plt Kades Soma.

Senada Ketua BPD H. Didin Saepudin dilokasi menyebut, tanah kas desa yang belum dibayar tapi sudah digaruk itu, ada di 2 lokasi untuk ROW jalan Tol. Yakni 100 bata di blok Lembahnendeut dan 100 bata di Pasirbuluh.

Ditempat terpisah, Humas PT. Wika Bima ditemui di rumahnya, Kamis (22/8) mengakui tanah desa yang digaruk itu belum dibayar. Namun tanah desa itu sudah disewa PT. Wika sekitar awal tahun ini sebesar Rp 3 juta.

Bima juga menyebut harga sewa Rp 3 juta itu tidak ada perjanjian batas luasan tanah. Perjanjian sewa-menyewa itu dilakukan di kantor desa ditandatangani Plt Kades Soma dan disaksikan Ketua BPD H. Didin Saepudin.

"Sebelumnya tanah desa itu sudah hangat akan dibayar bulan depan. Ternyata diundur terus karena bohongnya PPK lahan. Sehingga tanah desa itu disewa atau diberi uang tunggu sampai tanah itu dibebaskan pemerintah, " katanya.**