Habiskan 8,5 Miliar Irigasi Nagrog Tidak Maksimal

Sumut, KORSUM.NET - Pembangunan Irigasi Nagrog yang menghabiskan anggaran Rp3.5 miliar pada tahun 2013 dan Rp 5 miliar dari APBD Sumedang 2017 untuk pengairan 10 Desa di 3 yaitu Kecamatan Kecamatan Rancakalong, Sumedang Utara dan Kecamatan Tanjungkerta. Hingga saat ini belum dirasakan manfaatnya.

Akibatnya warga desa Cipanas ancam tidak akan membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) selama sawah mereka tidak mendapatkan pasokan air.

Hal tersebut disampaikan oleh para penggarap sawah di Dusun Hanjuang Desa Cipanas Kecamatan Tanjungkerta bahwa, para penggarap sawah sudah hampir 25 tahun sawah garapannya tidak mendapatkan pasokan air yang biasa dari Irigasi Nagrog.

"Kemarin kita para petani kumpul, dan sepakat kalau tidak juga ada air ke sawah garapannya tidak akan membayar PBB sawah. Sekarang mau bayar pajak gimana kalau sawahnya juga tidak bisa dipakai bertani," ungkap salah seorang petani pada KORSUM.NET, Selasa (6/8).

Adapun luas sawah yang berada di Desa Cipanas yang hingga saat ini belum terairi dari Irigasi Nagrog, lanjutnya, yaitu mencapai 15 hektare di blok Hanjuang.

"Bagaimana mau sampai kesini (desa Cipanas) airnya, kalau di Desa Mekarjaya saja baru terairi 500 bata," ucapnya

Lebih lanjut para petani mengatakan, padahal waktu jaman Bupati sebelumnya, kita sudah melakukan audensi ke Gedung Negara dan Bupati berjanji akan terus memantau perkembangan pembangunan irigasi nagrog hingga airnya bisa sampai ke para petani.

"Tapi sekarang coba lihat, boro boro memantau, udah dibangun lagi pada tahun 2018 senilai 8 miliar, tapi hingga saat ini airnya juga tidak ada, dan tidak pengontrolan sama sekali," ujarnya

Ditempat terpisah itu Kepala Dusun satu Desa Mekarjaya Kecamatan Sumedang Utara Yayat Supriatna mengatakan, para petani di Mekarjaya sudah ingin menerima manfaat dari Irigasi Nagrog yang berada di Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang.

"Petani di desa kami sudah berupaya keras untuk mengusahakan air bisa mengalir. Walaupun mungkin dari desa yang lain terkesan diam karena sudah jenuh," ujarnya.

Yayat juga menyebutkan, dampak dari tidak mengalirnya air dari Irigasi Nagrog tersebut, saat ini puluhan ribu hektar sawah beralih fungsi menjadi kebun.

"Saat ini sudah sebagian besar menjadi kebun. Akan tetapi mereka kalau bayar pajak masih pajaknya sawah. Terang saja merek jadi rugi" ucapnya

Hal senada dikatakan oleh, Kocih (35) salah seorang petani asal Dusun Mekarwangi, Desa Margamukti, Kecamatan Sumedang Utara berharap agar pemerintah dapat segera memperbaiki saluran Irigasi Nagrog sehingga bisa mengairi sawahnya.

"Kalau disini sudah 20 tahun lebih susah air, karena salurannya tidak memadai. Padahal air dari Irigasi Nagrog juga bukan hanya digunakan untuk para petani saja. Banyak warga disini menggunakan untuk kebutuhan sehari hari seperti mandi, nyuci bahkan minum," terangnya

Dikonfirmasi akan Hal tersebut Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bambang Rianto mengaku, dirinya tidak tahu karena waktu itu saya menjabat sebagai Sekdis. Sementara untuk pembangunan proyek Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) adalah pa Asep Darajat yang saat ini lagi di Bandung.

"Yang lebih paham pa Asep Darajat jadi ke pa Asep saja, takut saya salah menyampaikan," ujarnya singkat saat dikonfirmasi KORSUM.NET di Kantor PUPR.** [Acep Shandy].
Share on Google Plus

About Acep Sandi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment