Sumsel, KORSUM.NET – Belum enam bulan jalan rabat beton di Babakan Gunung Gadung Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan sudah berlubang, pembangunan jalan yang menghabiskan anggaran senilai Rp. 90 juta yang bersumber dari Provinsi dengan panjang kurang dari 50 meter tersebut diduga kurang penerapan semennya.  

“Pembangunan jalan rabat beton ini, baru saja di tambal atau diperbaiki lagi karena jalan tersebut belum enam bulan saja sudah berlubang, ya tidak tahu kenapa? Jalan baru dibangun sudah pada berlubang dan ketika saya coba ditendang tendang bagian pinggir jalan corannya tidak padat akibatnya retak, maka melihat hal itu tidak heran kalau jalan itu sudah berlubang dan kini baru selesai di tambalan lagi,”ungkap salah satu sumber media ini yang meminta namanya tidak disebutkan saat dikonfirmasi, Selasa (17/9).

Bahkan untuk ngecor, kata sumber, menggunakan alat molen nya saja hanya sepanjang kurang lebih 20 meteran, selebihnya, alat molen tersebut tidak digunakan, akhirnya pengecoran tidak memakai alat molen tapi dengan manual, hingga pekerjaan selesai alat molen tersebut tidak digunakan.

“Dengan tidak menggunakan alat molen itu, jawabannya sih ketika ditanya biar cepat saja pekerjaannya, jadi ngecor hanya dengan menggunakan pacul dirata ratakan dibantu dengan kakinya. Bisa dibedakan, olahan dengan memakai alat molen dengan manual lebih padat memakai alat molen dibandingkan manual, dan jalan yang berlubang itu yang pengerjaannya tidak memakai alat molen, dan terlihat sekali semennya kurang, kalaupun semennya cukup coran moal ngeupruy,”jelasnya.

Sekretaris Desa Sukajaya Ikah Atikah membantah, menurutnya pekerjaan sudah dianggap selesai dengan tidak ada permasalahan, apalagi mengurangi dari penerapan semen, kalaupun ada pengurangan penggunaan semen pada saat pembangunan jalan tersebut pihak dari BPD Desa Sukajaya pun akan menegurnya.

“Pembangunan rabat beton itu ada di jalan Babakan Gunung Gadung, dengan pagu anggaran sebesar Rp.90 jutaan dari Banprov. Tidak ada warga yang komplen dan ketika pengerjaan pun BPD ada mengawasi, hal ini yang lebih tahu adalah PPK karena PPK,”ujar Ikah.

Dikatakan Ikah, ada beberapa kendala pembangunan jalan rabat beton tersebut, diantaranya kontruksi tanahnya cadas dan tandus, beda dengan di tempat yang lain, dan persoalan lainnya adalah susah air untuk mengaduk coran.

“Jalan Babakan Gunung Gadung itu dibangun karena memang diperlukan berdasarkan hasil musyawarah dan di masukan di Perdes program Sapras, dan saya menerima laporan dari PPK bahwa pengerjaan coran tersebut karena tanahnya itu tandus jadi sulit untuk menerapkan coranya katika disiram airpun tidak ada pengaruh, dampaknya hasil coran terkesan muruluk, muruluk coran itu bukan karena kurang semen, kalau kurang semen kan PPK dan BPD juga ada naha teu digeunggeureuhkeun?,”ucapnya.

Ikah melanjutkan, “molen tidak digunakan karena rusak, paling pokok masalahnya itu adalah air, air keluarnya sangat minim sekali dari slang, kan kalau pakai molen itu airnya harus banyak, katika ngecor selesai langsung air curahkan, kalau pakai molen itu kan cepat jadi air harus selalu siap, ini kan tidak nunggu air sampai penuh di ember pun lama sekali”. Jelasnya.

“Ngecor pakai molen itu kan sudah ada takaranya kalau molen berhenti karena nunggu air, molen itu kan bakal rusak karena banyak semennya, akhirnya PPK memutuskan sudah lah jangan pakai molen asal takarannya sesuai, dikerjakan oleh swakelola dalam waktu lima hari,”pungkasnya.