KOTA, KORSUM.NET - Pasca penggerebegan pasangan mesum oleh satpol PP sumedang beberapa waktu lalu, kemarin warga Sumedang di kagetkan dengan beredarnya video “syur’ di media social yg diduga pelaku nya adalah warga Sumedang. Hal ini tentunya sangat memprihatikan disaat Sumedang sedang berbenah dalam berbagai bidang termasuk perhatian pemerintah daerah terhadap pembangunan moral  dan ahlak warganya.

Rahmat Juliadi Anggota DPRD dari Fraksi PKS mengatakan, di dalam Visi Sumedang Simpati, terdapat upaya pemerintah Kabupaten Sumedang yang ingin mewujudkan masyarakat yang agamis nampaknya masih memerlukan energi yg sangat besar.

“Bupati beserta jajarannya memerlukan kerja ekstra keras untuk mewujudkannya, memang sudah ada upaya-upaya yang dilakukan pemerintah melalui berbagai program seperti gerakan sholat subuh berjamaah, program maghrib mengaji dan beberapa program lainnya. Saya cukup mengapresiasi upaya yg telah dilakukan Pemkab Sumedang, namun di sisi lain saya masih melihat program-program  tersebut masih terkesan seremonial saja, hanya di ikuti sebagian kecil masyarakat yg memang sudah memiliki kebiasaan baik seperti itu dan segelintir pejabat dan aparatur Pemkab yang memiliki komitmen yang kuat atau aparatur yg hanya asal gugur kewajiban saja memdampingi kepala daerah agar tidak mendapat teguran atau punishment dari pimpinan”. Katanya.

Masih menurut Rahmat, Viralnya video “syur “ warga Sumedang di media sosial yg membuat geger sebagian masyarakat, bagi dirinya tidak terlalu mengagetkan , bahkan sebelumnya pun jagat dunia maya di hebohkan dengan viralnya video “syur” warga asal Garut.

“Sebagaimana yang sudah pernah  saya sampaikan bahwa sesungguhnya hal ini merupakan “fenomena gunung es” dimana kondisi yg sesungguhnya jauh lebih banyak dan lebih parah dari yang tampak.   Hal ini terjadi salah satu faktornya akibat kemajuan teknologi informasi yg berkembang sangat pesat, apabila masyarakat tidak bisa menggunakan nya dengan bijak maka akan menimbulkan dampak negatif yang luas. Disamping tetutunya moralitas sebagian masyarakat yg masih rendah”. Paparnya.

Politisi senior dari PKS ini menambhakan, “Memang hal ini bukan menjadi tanggung jawab Pemkab Sumedang sepenuhnya, akan tetapi ini menjadi tanggung jawab semua stakeholder yang ada di Kabupaten Sumedang, saya sangat mengapresiasi kinerja aparat kepolisian dalam hal ini jajaran polres Sumedang yg dengan cepat menindaklanjuti kasus ini, namun kasus ini harus menjadi bahan introspeksi bagi semua pemangku kebijakan untuk mengoptimalkan peran dan fungsinya masing-masing. Para alim ulama, ustad dan tokoh masyarakat untuk terus mengoptimalkan perannya dalam membina dan membimbing masyarakat, para orang tua dan guru dalam mendidik dan mengawasi anak-anak dan peserta didiknya”. Tambahnya.

Menurut Rahmat, yang tidak kalah penting adalah pemerintahan daerah Kabupaten Sumedang dalam hal ini Bupati dan DPRD dalam membuat regulasi atau peraturan daerah yg mendukung terwujudnya Sumedang Simpati yg diantaranya adalah mewujudkan masyarakat yg agamis, memang saat ini di Kabupaten Sumedang sudah memiliki Peraturan Daerah tentang  penyelengaraan pendidikan, namun perda ini tidaklah memadai, di samping implementasinya yg lemah, peraturan pelaksananya berupa perbup belum rinci.

“Saya mengusulkan kepada Bupati dan DPRD untuk mebuat regulasi yg lebih spesifik guna menanggulagi atau setidaknya mengurangi dan meminimalisir kasus-kasus seperti di atas, seperti Perda tentang Ketahanan Keluarga , juga Perda pelarangan siswa membawa handphone ke sekolah. Karena sebagaimana diketahui bersama bahwa kasus video “syur” pun banyak yg melibatkan pelajar, baik penyebarannya bahkan prakteknya yg terjadi di lingkungan sekolah”. Harapnya.

“Namun demikian sebaik apapun aturan yg di buat, akan kembali kepada masyarakat Sumedang apakah mempunyai keinginan dan komitmen yg kuat untuk mewujudkan masyarakat yg agamis untuk menuju visi Sumedang Simpati”. Pungkasnya.