SUMEDANG, KORSUM.NET - Pemerintah Kabupaten Sumedang harus segera melakukan perubahan signifikan,  terutama dalam keberpihakan pembangunan infrastruktur.  Bukan hanya karena masalah hari ini,  tetapi juga melakukan prediksi dimasa yang akan datang.

Semrawutnya penataan Jatinangor saat ini,  merupakan kelambatan dalam merencanakan kota. Sehingga karena telat melakukan perencanaan awal akan berbiaya mahal untuk menatanya.

Melihat kondisi kekinian, Jatinangor menjadi bagian wilayah barat Kabupaten Sumedang,  selain Tanjungsari,  Sukasari,  Cimanggung dan Pamulihan.  Solusi penanganannya, salah satunya adalah dengan melakukan pembangunan terintegrasi antar kecamatan tersebut,  diantaranya dengan  membangun jalan outer ring road  (jalan lingkar) di Sumedang wilayah barat. Jalan lingkar tersebut Menghubungkan lima kecamatan tadi.

“Selain jadi solusi atas masalah kesemrawutan Jatinangor,  pembangunan infrastruktur jalan,  akan memberikan sebaran  pesatnya pembangunan dan tingginya pertumbuhan ekonomi  Jatinangor, kepada kecamatan lain disekitarnya. Dengan jalan lingkar, akan terjadi pemerataan pembangunan dan perekonomian di Sumedang wilayah barat dari pesatnya Jatinangor saat ini,”  ujar Wakil Ketua ICMI orda Sumedang, Dr.  Asep D. Darmawan, kepada Sejumlah Media, (24/09/2019).

Lebih lanjut, menurut Asdar (Sapaan akrabnya),  Jatinangor sebagai  kawasan pendidikan  kondisinya dinilai padat dengan berbagai aktivitas  usaha barang dan jasa. Pesatnya pembangunan fasilitas dan sarana penunjang  pendidikan di sejumlah kampus ternama, seperti ITB, UNPAD dan IPDN. Contohnya, kos-kosan, apartemen, restoran dan kafe, super market, sarana olah raga dan gedung perpustakaan. “Jatinangor overload," jelas Asdar.

Oleh karena itu, perlu sebaran beban dengan pemerataan ekonomi ke wilayah  4 kecamatan lainnya. "Salah satu pendukungnya dengan membangun jalan outer ring road di wilayah barat Sumedang,” tuturnya.

Menurut dia, pembangunan jalan lingkar tersebut,  dengan menggunakan jalan kabupaten yang ada. Selain memperlebar ruas jalannya hingga 12 meter, misalnya, kualitasnya pun perlu ditingkatkan. Jika masih ada jalur jalan yang belum tersambung, pemda harus membangun jalan baru untuk menyambungkannya.

Kondisi saat ini, jalan kabupaten di Jatinangor yang dekat kampus ITB dan Unpad ke arah bumi perkemahan Kiarapayung, BGG (Bandung Giri Gahana) Golf dan gedung LAN (Lembaga Administrasi Negara), sebetulnya sudah tersambung ke wilayah Kec. Sukasari dan Tanjungsari. “Hanya saja, jalannya kecil. Jadi untuk membangun jalan lingkar, tinggal dilakukan pelebaran. Yang belum nyambung, dibangun lagi supaya nyambung,” ucapnya.

Jika jalan lingkar jadi dibangun, akan terjadi multiplayer effect pembangunan fisik dan pemerataan ekonomi di beberapa desa di 4 kecamatan tersebut. Kondisi itu, terutama di sepanjang jalan lingkar. Pembangunan kos-kosan mahasiswa tak lagi bertumpu di Jatinangor, melainkan akan bergeser ke wilayah Kec. Sukasari dan Tanjungsari. Berbagai sarana dan penunjangnya pun, dengan sendirinya akan dibangun di daerah itu. Restoran, rumah makan,  kafe hingga tempat belanja,  akan bermunculan di pedesaan di wilayah Sukasari dan Tanjungsari.  

“Pembangunan berbagai fasilitas itu,  menjadi lapangan kerja baru bagi masyarakat di pedesaan. Pengaruhnya perekonomian dan  pendapatan mereka akan meningkat.  Jadi,  pesatnya pembangunan di Jatinangor akan merambah ke beberapa desa di 4 kecamatan lainnya, pengaruh jalan lingkar ini.  Pemerataan pembangunan hingga perputaran uang akan terjadi di 5 kecamatan tersebut,” tuturnya.

Lebih jauh Asdar,  yang penulis Opini HU #Kompas# dan *Kompasiana*  menegaskan, bahwa Pemkab Sumedang bisa saja melengkapi jalan lingkar tersebut, dengan membangun fasilitas umum dan sosial (fasum dan fasos). Misalnya, membangun rumah sakit besar, sarana olah raga, masjid besar Jatinangor,  pusat penelitian ilmu pengetahuan bahkan membangun perpustakaan standar internasional  berbasis digital, seperti yang akan dilakukan IPDN. Jadi ketika mahasiswa membutuhkan referensi buku atau data lainnya dari luar negeri, tak usah juah-jauh pergi ke Perpustakaan Oxford University Inggris atau Leiden Belanda, cukup datang  ke perpustakan Jatinangor saja.

“Jatinangor punya beberapa  kampus ternama, ilmu pengetahuannya bisa dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan di Sumedang wilayah barat. Kantor pemerintahan Kecamatan Jatinangor pun harus secepatnya dipindahkan di sekitar jalan lingkar atau dekat Kiarapayung. Sebab, kondisinya sudah tidak dilayak berada di pusat kota. Sekalian dibangun Alun-alun, masjid besar dan fasilitas lainnya,” katanya. (IWO).