KOTA, KORSUM.NET - Dua puluh hari menjelang hari H, panitia West Java Paragliding World Championship dan Culture Festival (WJPWC and CF) semakin mematangkan persiapan untuk menyambut event tersebut. Termasuk yang dilakukan oleh Seksi Promosi dan Festival pada hari Rabu (2/10) yakni latihan bersama Tari Umbul Kolosal yang akan ditampilkan sebagai salah satu atraksi pembuka.

Latihan yang berlangsung di halaman Gedung Negara dan sebelah Selatan Alun-alun Sumedang tersebut diikuti oleh 500 orang penari dari 25 desa di dua Kecamatan yakni Paseh dan Situraja, wilayah dimana kesenian tradisional tersebut tumbuh dan berkembang. Dengan mengenakan kebaya dan kain, selendang, serta kaca mata hitam mereka mereka berlatih dengan penuh semangat menari walau cuaca cukup panas. Usia para penari antara 17 sampai 35 tahun yang terdiri dari pelajar dan masyarakat umum.

Pada Tahun 2012, tepatnya tanggal 20 Mei, warga Situraja yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Kecamatan Situraja (Pamacan Raja) atas pemrakarsa Media ini (Koran Sumedang) telah sukses tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai peserta terbanyak dalam Kontes Seni Tari Umbul di Alun-alun Sumedang yakni sebanyak 2.342 orang.

Rekor tersebut disusul oleh warga Paseh yang menyelenggarakan event dan bersama Media ini juga (Koran Sumedang) pada 31 Agustus 2016 di Lapang  Sepak Bola Madukara Paseh dengan melibatkan peserta sekitar lima ribu lebih penari sehingga tercatat pada Original Rekor Indonesia (ORI).

Seni Tari Umbul biasanya digelar pada acara khitanan atau menyambut tamu agung. Ia diperkirakan muncul pada tahun 1940-an di Desa Cijambe Kecamatan Paseh oleh seorang seniwati bernama Ma Jaer dan kemudian berkembang juga di Kecamatan Situraja yang berdekatan dengan Paseh. Bahkan sampai sekarang tari ini menyebar ke wilayah lainnya di Sumedang.

Pada awalnya kesenian ini dimainkan oleh kaum lelaki yang memakai pakaian perempuan. Mereka adalah para pejuang kemerdekaan yang sedang menyamar pada zaman revolusi. Seiring berjalannya waktu, para penari Umbul sekarang didonimasi oleh perempuan, bahkan hampir semuanya perempuan.

Tari umbul juga pada mulanya disajikan dalam pertunjukan reog, selanjutnya berkembang menjadi jenis seni pertunjukan tersendiri. Pada umumnya disajikan di arena terbuka kemudian sering dipertontonkan di atas panggung.

Ciri khas Tari Umbul adalah gerakan pinggul yang berbau erotis dan mengandung unsur humoris. Pada awal kemunculannya, seni khas ini pernah mengalami penentangan karena mungkin dipandang terlalu erotis. Oleh karena itu, pada tahun 1944 sempat terjadi pembekuan Seni Tari Umbul dan tidak ada penggiat seni yang menekuninya, karena seni tari ini mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Setelah mengurangi nilai-nilai erotiknya, Seni Umbul kembali muncul dan berkembang luas dengan lebih baik. Bahkan sampai sekarang Tari Umbul masih bertahan dan  tetap digemari masyarakat. Ia sering disajikan secara kolosal dalam event-event besar kepariwisataan yang menyedot banyak perhatian dari wisatawan pribumi maupun mancanegara, termasuk pada Pembukaan West Java Paragliding World Championship dan Culture Festival pada 22 Oktober 2019 mendatang yang akan diikuti oleh atlet-atlet Paralayang mancanegara.**