Pada Tahun 2020 mendatang adalah titik terendah dependent ratio (Rasio Ketergantungan) Kabupaten Sumedang mencapai 47,85 persen, artinya pada tahun depan Kabupaten Sumedang berada pada puncak bonus demografi.

Seperti kita ketahui sejak tahun 2010 Kabupaten Sumedang sudah mulai mendapatkan bonus demografi. Bonus Demografi adalah suatu kondisi dimana komposisi penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif.

Ini berarti pada tahun tersebut Sumedang sedang mengalami “buta tulang buta daging”, namun apakah kita sudah memanfaatkan bonus demografi ini ataukah menyianyiakannya? perlu kerja keras pemerintah dan stake holder dalam pemanfaatannya. Program pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja dan program pemberdayaan masyarakat haruslah menjadi prioritas.

Seringkali pemerintah daerah kesulitan dalam mengidentifikasi objek dalam setiap program kegiatan yang dicanangkan dikarenakan perbedaan persepsi data yang digunakan. Seperti diketahui untuk data kependudukan saja ada dua data yang berbeda yaitu data de jure dari Dinas Kependudukan dan data de facto dari Badan Pusat Statistik yang memiliki perspektif data yang berbeda.

Data de jure mempersepsikan keberadaan penduduk berdasarkan kepemilikan KTP atau KK, sedangkan data de facto berlandaskan pada tempat domisli atau keberadaan penduduk tersebut di mana tinggal.

Pada tahun 2020 mendatang Badan Pusat Statistik akan melaksanakan Sensus Penduduk yang akan menghasilkan dua persfektif data sekaligus, secara de jure dan de facto, sehingga harapan kita tentang satu data Indonesia yang berkualitas menjadi kenyataan.

Sensus Penduduk 2020 agak berbeda dengan Sensus Penduduk yang sudah dilakukan sebelumnya. Sensus Penduduk tahun depan menggunakan “Combine Methode” (Motode Kombinasi), menggabungkan dua metode yaitu sensus mandiri secara online dan sensus wawancara dari rumah ke rumah. Basis Data yang digunakan pada Sensus Penduduk 2020 adalah data adminstrasi kependudukan dari Ditjen Dukcapil, sehingga masyarakat hanya melengkapi atau memutakhirkan data yang sudah ada.

Dimulai pada bulan Februari-Maret dengan Sensus Onlie. Pada pelaksanaannya masyarakat secara mandiri memutkhirkan data di website yang sudah disiapkan Badan Pusat Statistik (https://sensus.bps.go.id). Pada kegiatan tersebut Badan Pusat Statistik akan melibatkan Ketua atau Pengurus SLS yang sudah dilatih untuk mendampingi dan mengevaluasi pelaksanaan Sensus online secara mandiri ini.

Beberapa hal yang dilakukan pada pelaksanaan sensus mandiri diantaranya menambahkan anggota keluarga baru yang belum terdaftar seperti bayi yang baru lahir, menghapus anggota keluarga yang seharusnya tidak terdaftar seperti anggota keluarga yang sudah meninggal, memutkhirkan data setiap anggota keluarga seperti pekerjaannya dan tingkat pendidikan.

  1. Bulan Juli adalah bulan Sensus Wawancara. Dalam pelaksanaannya ada tiga tahap yaitu: Pemeriksaaan daftar penduduk, pada kegiatan ini petugas sensus bersama ketua atau pengurus RT memeriksa daftar penduduk yang sudah dan belum termutakhirkan pada pelaksanaan Sensus Online, 
  2. Verifikasi lapangan (ground check), pada kegiatan ini petugas memverifikasi dengan menyisir seluruh wilayah tugasnya untik mengidentifikasi penduduk yang datanya belum termutakhirkan atau bahkan belum terdaftar, 
  3. Pencacahan Lengkap, pada tahap ini petugas mendatangi setiap rumah di mana seluruh atau salah satu anggota keluarganya tidak terdaftar atau belum termutakhirkan, di Sumedang dan Jawa Barat pada umumnya tahap ini menggunakan moda pengumpulan data CAPI (Computer Assisted Personal Interviewing), petugas mewawancarai penduduk dengan menggunakan gawai baik tablet maupun smartphone dengan spesifikasi tertentu. Ada sektitar 21 pertanyaan yang akan ditanyakan petugas SP2020, seperti nama lengkap, pekerjaan dan pendidikan.

Sensus Penduduk 2020 setidaknya menghasilkan beberapa parameter demografi seperti fertilitas, mortalitas dan migrasi. Parameter tersebut akan digunakan sebagai dasar dalam proyeksi penduduk tahun-tahun berikutnya.

Data Sensus Penduduk juga akan digunakan sebagai basis pengambilan kerangka sampel yang sangat berguna pada setiap kegiatan survei yang dilaksanakan, baik oleh BPS maupun oleh penyelenggara survei statistik sektoral. Selain itu Sensus Penduduk juga akan menghasilkan indikator-indikator sosial seperti pendidikan, perumahan dan indikator sosial lainnya.

Keberhasilan Sensus Penduduk 2020 akan menyebabkan data berkualitas dan berdayaguna. Karenanya peran serta masyarakat, pemerintah daerah dan stakeholder sebagai penentu keberhasilan Sensus Penduduk menjadi harapan kita bersama, pada akhirnya satu data Indonesia yang berkualitas yang merupakan impian kita bersama akan terwujud sehingga dapat menyokong keberhasilan cita-cita kita “Menuju Indonesia Maju dengan SDM berkualitas”.

Penulis : Cecep Muhram Mubarok (Kasi Statistik Sosial BPS Kab. Sumedang)