Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Sumedang selama lima tahun terakhir cukup pesat. Tak hanya infrastruktur pendidikan yang menjamur. Infrastruktur lain pun banyak dibangun. Dapat dilihat secara kasat mata pembangunan Waduk Jatigede, Jalan Tol Cisumdawu dan Pembangunan Pasar Modern Sumedang. Begitu juga pembangunan sarana prasarana di setiap desa.

Seluruh pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan perekonomian penduduk namun juga diharapkan dapat mendukung meningkatnya pembangunan manusia di Kabupaten Sumedang.

Menurut United Nations Development Programme (UNDP), pembangunan manusia adalah suatu proses untuk memperbanyak pilihan-pilihan yang dimiliki oleh manusia. Diantara banyak pilihan tersebut, pilihan yang terpenting adalah untuk berumur panjang dan sehat, berilmu pengetahuan dan mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar dapat hidup secara layak.

Indikator yang dapat mengukur capaian pembangunan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

IPM mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan dan standar hidup layak .

Nilai IPM merupakan Agregasi dari tiga dimensi dasar tersebut. IPM, Selain merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk), juga dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara. Pun demikian dengan Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur IPM berdasarkan konsep dan metodologi yang direkomendasikan UNDP.

Dimensi umur panjang dan sehat berkaitan erat dengan derajat kesehatan masyarakat. Indikator yang digunakan adalah Usia Harapan Hidup (UHH) waktu lahir. UHH mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat. UHH dihitung dari hasil sensus dan survei kependudukan.

 UHH di Kabupaten Sumedang selalu meningkat. Walaupun peningkatannya relatif landai. Di tahun 2014 mencapai 71,89 tahun dan meningkat menjadi 72,14 di tahun 2018. Angka ini menggambarkan bahwa bayi-bayi yang dilahirkan pada tahun 2014 – 2018 diperkirakan akan dapat hidup sampai 72 tahun.

Untuk mengukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan indikator Harapan Lama Sekolah (HLS) dan rata-rata lama sekolah (RLS). HLS didefnisikan lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang.

Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. RLS didefnisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal.

Diasumsikan bahwa dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. Cakupan penduduk yang dihitung dalam penghitungan rata-rata lama sekolah adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas.

HLS Kabupaten Sumedang, sejak 2014 mengalami peningkatan meskipun peningkatannya relatif kecil. Di tahun 2014 HLS Kabupaten Sumedang 12,89 dan meningkat menjadi 12,94 di tahun 2018. Angka ini menggambarkan bahwa secara rata-rata anak usia 7 tahun yang masuk jenjang pendidikan formal pada tahun 2014 - 2018 memiliki peluang untuk bersekolah selama sekitar 12 tahun lebih atau setara dengan Diploma I.

Begitupun dengan RLS Kabupaten Sumedang. RLS meningkat sejak tahun 2014. Di tahun 2014 RLS Kabupaten Sumedang mencapai 7,66 dan di tahun 2018 mencapai 8,17. Angka ini menggambarkan secara rata-rata penduduk Kabupaten Sumedang yang berusia 25 tahun ke atas telah menempuh pendidikan selama tujuh sampai delapan tahun atau hampir menamatkan kelas VIII.

Untuk mengukur dimensi hidup layak, digunakan indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok. Yang dilihat adalah rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian pembangunan untuk hidup layak.

Pengeluaran per kapita adalah biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selama sebulan dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga. Sejak tahun 2014 pengeluaran per kapita Kabupaten Sumedang mengalami peningkatan. Pengeluaran per kapita Kabupaten Sumedang pada tahun 2014 adalah 8,84 juta rupiah dan pada tahun 2018 sebesar Rp. 10,15 juta.

Berdasarkan data BPS, Nilai IPM Kabupaten Sumedang sejak tahun 2014 – 2018, cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 nilai IPM Kabupaten Sumedang 68,76 dan Nilai IPM tahun 2018 mencapai 70,99. Sejak tahun 2017 Kabupaten Sumedang mempunyai nilai IPM pada kelompok IPM Tinggi.

Pencapaian IPM yang sudah masuk ke dalam kelompok tinggi, hendaknya tidak membuat pemerintah Kabupaten Sumedang sudah merasa puas. Diperlukan inovasi – inovasi kebijakan yang dapat langsung menyentuh perbaikan dan peningkatan sektor – sektor yang berhubungan langsung dengan faktor penyusun nilai IPM.

Pada bidang kesehatan, bisa digiatkan dengan pembangunan infrastruktur baru . Perbaikan sarana dan prasarana kesehatan yang kurang layak menjadi layak kembali. Penyediaan tenaga kesehatan (medis dan non medis) yang berkualitas.

Pemberian berbagai jenis sosialisasi kesehatan bagi masyarakat umum, ibu hamil, bayi dan anak – anak. Pemberian jaminan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu serta pelayanan kesehatan yang baik dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pada bidang pendidikan, bisa digiatkan juga dengan meningkatkan sarana dan prasarana baik dari segi kuantitas atau kualitasnya. Penyediaan sumber daya di bidang pendidikan yang lebih baik. Regulasi dan program pendidikan yang dapat membuat masyarakat mengenyam pendidikan lebih lama, berkesempatan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi serta menekan angka putus sekolah sejatinya terus digulirkan. Bantuan pendidikan serta sosialisasi tentang pendidikan kepada masyarakatpun hendaknya harus tetap menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Sumedang.

Pengawasan dan evaluasi terhadap program – program pemerintah baik pada bidang pendidikan ataupun kesehatan menjadi suatu keharusan. Hal ini dimaksudkan supaya kendala dan hambatan dari program – program tersebut dapat diminimalisir dan tujuan dari program tersebut dapat tercapai.

Peningkatan perekonomian masyarakat pun menjadi hal yang harus diperhatikan juga. Peningkatan pendapatan masyarakat akan meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat. Penyediaan lapangan pekerjaan yang mudah bagi masyarakat akan berdampak pada peningkatan penghasilan mereka.

Tak lupa regulasi terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakatpun diperlukan agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Membuat layak wilayah kabupaten Sumedang agar para investor/pihak swasta nyaman berinvestasi di berbagai sektor, baik sektor pendidikan, kesehatan, atau sektor perekonomian lain yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat serta menyerap tenaga kerja lebih banyak juga menjadi suatu agenda yang harus diperhatikan.

Sudah selayaknya, di era digitalisasi saat ini tak hanya pembangunan infrastruktur yang terus digenjot. Pembangunan manusia pun layak untuk mendapat prioritas. Membangun kualitas hidup manusia Sumedang menjadi suatu keharusan. Zaman berubah, teknologi berkembang, kualitas SDM pun harus meningkat.

Ditulis Oleh
: Eni Gustini, S.Si. (S1 - Sarjana Statistik) Unit Kerja BPS Kabupaten Sumedang.