Kota, KORSUM.NET - Kondisi camat sekarang bisa dibilang buah simalakama maju kena mundur kena, maju terbentur dengan biaya, mundur disangka tidak loyal terhadap pekerjaan dan pimpinan. Ingat, hanya beberapa kecamatan yang dianggap sumber pendapatannya menunjang, sebagian besar kecamatan di Kabupaten Sumedang pendapatannya standar, bahkan ada yang di bawah standar.

“Dalam rangka upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Sumedang ini. hal tersebut terjadi kontrak kerja salah satunya pengentasan kemiskinan, tupoksi Camat salah satunya sebagai koordinator di wilayahnya.

Di dalam pemerintahan saat ini, semua kegiatan harus ditunjang dengan anggaran. Kenyataannya, untuk program pengentasan kemiskinan yang menjadi andalan visi misi Simpati itu tidak ada anggarannya.

Disisi lain, para camat itu digenjot kinerjanya dalam pengentasan kemiskinan,” ungkap Asep Surya Nugraha, sebagai pemerhati kebijakan pemerintahan, saat dikonfirmasi media ini, Minggu (8/12).

Kegiatan yang menumpuk di setiap kecamatan dalam membangun sinergitas, program program dari visi misi simpati harus terealisasi, salah satunya pengentasan kemiskinan, belum lagi kegiatan yang secara tiba tiba seperti fashion batik yang akan dilaksanakan mendatang, event sepak bola dan kegiatan yang lainnya, yang semuanya itu tidak ditunjang dengan anggaran, bahkan disebut soal anggaran nol besar.

"Jadi hayang seuri", kata Asep Surya, bagaimana caranya agar angka kemiskinan bisa turun tapi tidak di tunjang dengan anggaran, malah angka kemiskinan harus ditekan sedemikian rupa dengan cara seni masing masing di kecamatan tentunya dengan inovasi, seni gaya bicara camatnya, seni dengan triknya, dan seni dengan tebar pesonanya. Apakah bisa berhasil dengan cara seni?, yang akhirnya camat hanya bermain dengan bagaimana menurunkan angka kemiskinan yang tanpa anggaran bukan kepada sasarannya yaitu pengentasan kemiskinannya dan penanggulangannya yang di tunjang dengan anggaran.

“Anggaran tersebut sementara ada di pagu Adum tatanan administrasi bukan di pagu pengentasan kemiskinan. Kalau anggaran ada di Dinas/Badan sementara tekanan ada di kecamatan menjadi tolak ukur kinerja. Saya meyakini pengentasan kemiskinan hanya untuk di perdagangkan, para camat hanya bisa dengan seninya bukan dengan anggaran, apakah bakal cukup mengatasi kemiskinan dengan seni camat itu sendiri?. Beda lagi kalau mendatangi warga yang benar tidak mampu lalu dengan membawa anggarannya serta dengan seninya, saya yakin kalau seperti itu akan sesuai harapan visi misi Simpati,” tandasnya.

Kegiatan PKK yang luar biasa dengan lomba lomba dan sebagainya tentunya menyangkut kembali dengan anggaran, lanjut Asep, dan saat ini turnamen sepak bola pun kecamatan anggarannya darimana?, patut diduga bermain dianggaran kecamatan pangkas sana pangkas sini karena tidak semuanya kecamatan mampu, belum lagi nanti katanya ada fashion batik dan kegiatan kegiatan yang lainnya. Apakah kegiatan yang padat itu harus dengan TPP camat?,” ujarnya.

Dikonfirmasi media ini, beberapa camat enggan berkomentar lebih banyak, karena percuma katanya berkomentar, ujung ujungnya bahwa camat dianggap tidak loyal terhadap program program unggulan. “Dipaksakan mengikuti kegiatan kegiatan tersebut berbenturan dengan anggaran, artinya saat ini kondisi di kecamatan maju kena mundur kena,” ungkap salahsatu camat yang mewanti-wanti untuk tidak ditulis namanya.