Kota, KORSUM.NET - Sudah 30 tahun, Hj. Mimin menempati salah satu kios dari 14 kios pedagang buah-buahan di area parkir pasar kota depan taman Endog. Setahun lalu, dia dan ke-14 pedagang buah diusir Pemkab dengan alasan area itu akan dijadikan ruang terbuka hijau.

Kepada Korsum.Net, Hj. Mimin mengaku pasrah meskipun pengusiran itu tidak ada pemberitahuan sebelumnya, karena Pemkab waktu itu menjanjikan akan membangun kembali kios baru.

"Setahun sudah janji itu tidak terbukti, malah belakangan area parkir dibangun Selter Mobil Tampomas. Kami akan menuntut keadilan Pemkab karena kami ini bukan PKL," ujar dia, di pasar kota, Kamis (5/12).

Sebab, lanjutnya, ke-14 kios pedagang buah dibangun Pemkab tahun 1990, dan semenjak diusir, nasib para pedagang buah tidak menentu karena omset terus menurun sedangkan biaya sewa tempat merangkak naik.

Memang waktu itu direlokasi ke lantai 2 pasar sandang lanjut dia, awalnya pihak pasar menjanjikan akan menggratiskan selama 6 bulan untuk kumpulkan modal.

"Namun belum genap  seminggu, pihak pasar sudah minta bayaran antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta. Bahkan kios harus dibeli seharga Rp 300 juta dengan DP Rp 8 juta," paparnya.

Masalahnya kios diatas sepi tak ada pembeli hingga kondisinya merugi karena buah-buahan banyak yang busuk akibat tak laku. Akhirnya para pedagang buah bubarkan diri tinggalkan kios diatas.

Menanggapi hal tersebut, Sekda Kabupaten Sumedang, Herman Suyatman, mengatakan, lokasi pedagang buah merupakan tanah milik Pemkab. Sesuai tata ruang bahwa area itu untuk ruang terbuka hijau.

Dulu lazimnya pedagang buah itu sewa, lanjutnya, namun Pemkab tidak perpanjang bahkan tidak mungkin memberi ijin kembali karena akan digunakan ruang terbuka yaitu pertamanan dan perparkiran termasuk untuk Selter.

"Selter untuk kepentingan publik, dan untuk para pedagang buah kami juga empati, tapi harus bagaimana kami harus memperhatikan masyarakat Sumedang, " tutur sekda di Islamic Center, Kamis (5/12).**