Fitria Oktafianti

Dewasa ini berbagai inovasi dan terobosan terbaru tentang sumber energi terbarukan terus digali dan diciptakan. Sumber energi yang menarik dibahas untuk masa depan yaitu bahan baku dari metana, baik dari gas alam maupun dari sumber biogas terbarukan.

Kesulitan utama dalam memanfaatkan energi dari gas alam diantaranya yaitu lokasi pengeboran yang terpencil, jumlah gas alam yang relatif kecil per lokasi, dan keterbatasan teknologi katalis kimia yang tersedia untuk mengubah gas alam menjadi produk yang bernilai tambah.

Untuk mengatasi hal tersebut, sekarang ini telah ditemukan bakteri Methylomicrobium buryatense 5GB1 yaitu jenis bakteri yang dapat digunakan untuk mengubah gas metan menjadi bentuk cair (liquid) dengan prinsip mengonversi metana menjadi senyawa multikarbon pada kondisi sekitar.

Sehingga dengan menggunakan bakteri tersebut dapat mencegah pemborosan energi serta lebih hemat biaya dan dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca karena tidak memerlukan proses pembakaran.

M. buryatense 5GB1 memiliki karakteristik tumbuh relatif cepat, dengan tingkat pertumbuhan maksimum 0,231 jam-1 (waktu penggandaan 2,9 jam). Strain ini tidak mudah rentan terhadap kontaminasi dan merupakan kandidat yang baik untuk proses yang dapat diskalakan. Bakteri ini juga luar biasa kuat dan dapat menahan berbagai kondisi pertumbuhan yang relatif luas.

Selain itu, manipulasi genetik bakteri ini relatif mudah. Proses yang memanfaatkan bakteri pengoksidasi metana tidak membutuhkan biaya besar. Proses tersebut melibatkan tekanan dan suhu tinggi sehingga mampu mengubah bentuk gas menjadi cair yang memiliki potensi untuk untuk digunakan sehingga lebih bernilai ekonomis dan praktis.

Mengingat semakin tingginya angka polusi udara saat ini yang disebabkan oleh pembakaran dari pabrik-pabrik yang mengubah gas metan untuk menjadi sumber energi sangat besar, diharapkan dengan adanya bakteri Methylomicrobium buryatense 5GB1 dapat mengurangi angka polusi udara saat ini. Selain itu, bakteri ini diharapkan bisa menjadi jalan alternatif dalam memproduksi biogas dalam skala besar namun tidak memerlukan biaya yang tinggi.

Penulis : Fitria Oktafianti (Mahasiswi UPI Sumedang, Jurusan Pendidikan Biologi Angkatan 2016)