Kota, KORSUM.NET - Untuk menekan dan mencegah kenakalan remaja khususnya kaum milenial. Pemerintah Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan, melaksanakan pelatihan untuk mencegah kenakalan remaja.

Adapun para peserta yang mengikuti pelatihan tersebut merupakan perwakilan dari para Siswa SD, SMP dan SMA, kader Posyandu, Kader PKK dan Karang Taruna.

Kepala Desa Sukajaya Nenden Dewi Respati mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya pemerintah desa untuk menekan angka kenakalan remaja atau kaum milenial di wilayah Desa Sukajaya.

"Hingga saat angka kenakalan remaja bisa dikatakan terus meningkat, sehingga sebagai bentuk upaya pencegahan, hari ini kita laksanakan pelatihan bagi kaum milenial. Disini kita menghadirkan narasumber yang kompeten untuk melakukan pencegahan tersebut," ucapnya saat dikonfirmasi KORSUM.NET disela kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di Aula Kantor Desa Sukajaya, Rabu (18/12).

Adanya komunitas anak punk juga, sambung Nenden, menjadi biang kerok terjadinya kenakalan remaja, sehingga membuat para orang tua resah.

"Saya sering menerima laporan dari masyarakat kalau anaknya belum pulang, dan setelah ditelusuri ternyata kebanyakan pada 'ngompreng' (numpang gratis di mobil bak terbuka) banyakan, seperti yang biasa dilakukan anak punk," ujarnya.

Untuk itu, sambungnya lagi, dirinya bersama unsur Babinkamtibmas dan Babinsa setempat telah berkali-kali melakukan patroli dan penindakan kepada para remaja yang gemar ngompreng tersebut.

Adapun kawasan Bukit Toga menjadi salah satu titik pertemuan para remaja. Sehingga tak dipungkiri, pengaruh pergaulan anak punk ditularkan di Kampung Toga.

"Di Kampung Toga itu, banyak orang untuk sekedar main-main ataupun nongkrong, kita enggak tau mereka itu dari mana saja. Bahkan pernah satu kasus, saya sampai jemput seorang anak ke Jakarta karena dia ikut-ikutan ngompreng, diturunkan di lampu merah, kemudian terjaring razia oleh Kemensos," akunya.

Nenden juga mengatakan, fenomena kenakalan remaja juga terjadi karena faktor kondisi tidak kondusif di keluarga dan beban psikologis.

"Tidak bisa dipungkiri faktor keluarga juga menjadi salah satu penyebabnya, karena mungkin tidak  ada kegiatan positif yang bisa dijadikan bahan di usia remaja,  Hingga kemudian ketemu temen-temen yang lain, kenalan, kemudian dibawa masuk ke pergaulan orang luar," ucapnya.

Meskipun orang tua maupun pihak Sekolah, bahkan sampai Pemerintahan Desa sudah sulit menegur para remaja ini, tambah Nenden, pihaknya terus berupaya keras meminimalisir potensi ancaman kenakalan remaja di wilayah Desa Sukajaya.

"Berbagi upaya sudah dilakukan, seperti Siskamling yang terus berjalan, termasuk pemasangan PJU ditempat tempat gelap yang sering dijadikan tempat nongkrong remaja. Sanksi push up, nyanyi lagu kebangsaan pun sering dilakukan terhadap para remaja yang kedapatan nongkrong hingga larut malam, tapi upaya tersebut tidak mempan juga. Saya berharap dengan kegiatan ini bisa menekan angka kenakalan remaja," pungkas Nenden. **