Paseh, KORSUM.NET - Tujuh warga Desa Padanaan Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang Orang Terkena Dampak (OTD) Bendung Rengrang telah mengadukan nasibnya ke Kejaksaan Tinggi  (Kejati) Jawa Barat atas kasus uang kerohiman yang dianggap tidak sepadan dengan komitmen awal, yakni semula akan dibayar Rp 1,2 miliar untuk tujuh warga, ternyata  hanya Rp 105 juta untuk lima warga atas penggantian rumah dan tegakkannya.

Atas pengaduan tersebut, Kepala Desa Padanaan Kecamatan Paseh, Dadan, telah dipanggil beberapa waktu lalu untuk dimintai keterangan oleh pihak Kejati jabar terkait dengan uang kerohiman yang diterima oleh lima warga.

“Saya telah dipanggil menjadi saksi untuk dimintai keterangan oleh pihak Kejati jabar kemarin, terkait dengan uang kerohiman yang diterima oleh warga saya,” ungkapnya, saat dikonfirmasi media ini, Selasa (17/12/2019), di ruang kerjanya.

Ada beberapa persyaratan, kata Dadan, yang harus ditempuh untuk penggantian itu. Pihak Dinas Pekerjaan Umum Provinsi tidak bisa memberikan ijin dikarenakan tanah yang didiami oleh warga adalah status tanahnya milik negara bukan milik warga. Jadi tidak ada penggantian melainkan kerohiman saja.

“Kerohiman tersebut diberikan oleh perusahaan (pihak ke tiga) bukan dari pihak Dinas Pekerjaan Umum Provinsi sebesar Rp.105 juta untuk lima rumah bukan tujuh rumah atau tujuh warga, karena yang dua rumah tidak terkena pembebasan. Saya sebagai saksi saat pemanggilan ke Kejati Jabar kemarin untuk menjelaskan soal kerohiman, soal uangnya dari perusahaan langsung kelima rumah tersebut dan Babinsa serta Babinkatibmas juga mengetahui hal itu, saya hanya menerangkan saja sepengatuhuan yang saya tahu,” kata dia.

Dikonfirmasi Media ini, kuasa hukum dari OTD Bendung Rengrang, Cucu Sumarya, juga sebagai Pemuda Panca Marga (PPM) Sumedang Bidang Hukum mengawal dan mendampingi tujuh warga OTD Bendung Rengrang hingga kasusnya diadukan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat atas petunjuk dari DPRD Kabupaten Sumedang setelah mengadukan nasib tujuh warga OTD Bendung Rengrang ke perwakilan rakyat.

“Ada tujuh rumah warga yang belum terbayar tegakannya, maka saya sebagai yang diberikan kuasa oleh tujuh warga OTD Bendung Rengrang, ketika kemarin di Kejati Jabar yang ditanya langsung oleh Pihak Kejati adalah tujuh warga tersebut. Saya hanya mengawal dan mendampingi dari PPM Sumedang bidang Hukum memberikan bantuan hukum kepada masyarakat,” ungkap Cucu saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis (18/12/2019).

Ia melanjutkan, kemarin Kepala Desa Padanaan Kecamatan Paseh telah dipanggil sebagai saksi oleh Kejati Jabar, dan nanti juga Camat dan Bagian Tata Pemerintahan di Setda Kabupaten Sumedang akan dipanggil juga sebagai saksi untuk dimintai keterangan oleh Kejati jabar.

“Warga hanya menuntut uang kerohiman yang sepadan bukan karena uang kerohiman lalu hanya alakadarnya, ini kan menyangkut dengan hajat hidup orang. Warga hidup sudah puluhan tahun di tanah tersebut, warga hanya menuntut penggantian tegakannya bukan tanahnya, karena tanah kan milik negara. Dasar tuntutan warga ketika di taksir harga oleh aprisal sebanyak tujuh rumah tersebut sebesar Rp 1,2 milyar, kenyataannya sekarang hanya Rp 105 juta yang dibayar oleh pengusaha atau pihak ke tiga yang menggarap proyek Bendung Rengrang,” katanya.

Media ini pun telah memberitakan sebelumnya terkait dengan segala permasalahan pembebasan Bendung Rengrang dengan judul “Tak Kebagian Uang Kerohiman Bendung Rengrang Suhadi dan Aris Meradang,”. Tujuh keluarga yang tinggal di Dusun Nyalindung Desa Padanaan Kecamatan Paseh terusmemperjuangkan nasibnya dalam pembebasan proyek Bendung Rengrang.

Karena uang kerohiman yang asal mula 70 juta untuk dibagikan kepada tujuh keluarga diantaranya Suhadi alias Ado, Jaja, Indra, Irip, Didin dan Irim dan Bu Aris telah ditolak dan memilih bertahan di kediamannya masing-masing.

Selanjutnya, Pada jelang hari raya Idul Fitri kemarin, rupanya momen tersebut dimanfaatkan oleh Pimpro Bendung Rengrang dan akhirnya lima keluarga menandatangani untuk hengkang dan diberikan uang kerohiman sebesar Rp 104 juta dari proyek Bendung Rengrang untuk dibagikan sesuai dengan ukuran rumahnya,  diantaranya Jaja mendapatkan Rp 22 juta, Irim mendapatkan Rp 10 juta, Indra dapat Rp 10 juta,  Irip dapat Rp 40 juta dan Didin dapat Rp 22 juta.