Kota, KORSUM.NET -  Seharusnya lounching Alun-Alun Sumedang dilaksanakan tepat diawal tahun baru sesuai yang tertera di papan proyek bahwa pekerjaan selesai 96 hari kalender. Bupati pun pernah menyebut hal yang sama bahwa loaunching tersebut akan dilaksanakan awal tahun baru 2020.

Namun hingga bulan ini berakhir, launching Alun-Alun Sumedang masih belum dilaksanakan. Molornya launching tersebut mengundang reaksi pertanyaan dari berbagai pihak termasuk para kuli tinta (wartawan) yang ingin mengetahui teka-teki yang belum terjawab.

"Ada apa launching Alun-Alun Sumedang bisa molor hampir sebulan?. Ada apa pula dengan penggunaan anggaran Rp 17 miliar proyek Alun-Alun Sumedang?. Angka fantastis dikucurkan Pemprov Jabar," kata seorang wartawan yang tidak disebut namanya di halaman kantor Perkimtan, Kamis (30/1).

Para wartawan itu mengaku sulit temui Kadis Perkimtan Gungun Nugraha, saat akan menemuinya. Kata mereka, meskipun sudah beberapa kali dicoba, tapi tetap kandas oleh dua orang Satpam yang seolah sudah dikoling bahwa jika ada wartawan, bilang saja kadis tidak ada.

Hari itu juga para wartawan langsung ke Alun-Alun Sumedang, tapi tak bisa masuk karena dihalangi seng penutup yang mengelilingi alun-alun. Wartawan hanya bisa intip disela-sela seng penutup untuk ambil foto.

Nampak di dalam area Alun-Alun Sumedang tidak ada kegiatan. Namun lagi-lagi muncul pertanyaan, proyek Rp 17 miliar itu tidak ada pembangunan yang signifikan hanya biasa-biasa saja.

"Jika anggaran Rp 17 miliar itu dibangun gedung, sudah berapa lantai. Namun proyek alun-alun Rp 17 miliar ini, apa yang mahalnya?. Paling yang yang mahalnya seng penutup alun-alun," kata mereka.

Perbincangan para wartawan semakin meluas yang menyebut, sebelumnya pemborong pekerjaan proyek PT. Vilar Indo Sarana selaku pemenang  tender pernah di black list karena ada dugaan jual beli bendera dengan perusahaan lain.**